Opini

Caleg Depresi, Buah Sistem Demokrasi

Dengan dukungan sistem dan kepribadian yang kuat maka akan lahir insan yang amanah, profesional, berintegritas, bertanggung jawab serta memiliki jiwa yang kuat. Harta, jabatan, dan materi tidak lagi menjadi sesuatu yang menyilaukan di dunia.


Oleh Najwa Ummu Irsyad
(Pegiat literasi)

JURNALVIBES.COM – Sejumlah Rumah Sakit (RS) menyiapkan ruang khusus untuk mengantisipasi calon legislatif (caleg) yang gagal dalam pemilu tahun ini. Hampir di setiap kota besar yang ada di Indonesia telah menyiapkan ruang khusus bagi caleg yang stres akibat gagal terpilih. Beberapa kota di Jawa Timur juga telah bersiap dengan ruang khusus bagi caleg gagal, di antaranya RS Menur di Surabaya, Rumah Sakit Umum Daerah RSUD Ngawi, RSUD dr Harjono Ponorogo, RSUD Pamekasan, RS Situbondo dan RSUD Sosodoro Djatikoesoemo di Kabupaten Bojonegoro.

Meski selama dalam catatan RSUD Bojonegoro belum pernah ada mantan caleg yang kalah pemilu masuk dalam perawatan, namun ruangan rehabilitasi tersebut selalu tersedia. Memang ruang tersebut juga difungsikan untuk pelayanan pasien umum dengan gangguan jiwa.

Sebenarnya, perlu dipertanyakan mengapa RS ramai-ramai menyiapkan kamar dan ruangan khusus bagi caleg yang gagal terpilih dalam kontestasi pemilihan legislatif di pemilu tahun ini?

Sebab dalam alam demokrasi saat ini, mereka yang mencalonkan diri pasti membutuhkan biaya tinggi untuk kampanye. Tidak hanya itu, politik uang menjadi fenomena yang menjamur bak di musim penghujan. Tidak sedikit di antara mereka para caleg yang berutang untuk mendanai kampanye mereka. Alhasil jika gagal maka dipastikan akan terlihat hutang yang besar, ditambah dengan rasa kecewa berat sampaikan pada tingkat depresi.

Persiapan ruangan kejiwaan beberapa RS tersebut berdasarkan pengalaman pemilu sebelumnya. Caleg yang gagal akan rawan menderita gangguan mental. Jika kita lebih detail, ada dua faktor yang menjadikan para caleg mengalami stres saat gagal dalam pemilu. Pertama faktor sistem demokrasi yang diemban oleh negara, dan faktor kedua adalah individu itu sendiri.

Demokrasi saat ini mengadopsi sistem pemilihan langsung bagi rakyat. Rakyat diberikan kesempatan memilih langsung calon legislatif baik tingkat daerah, propinsi maupun pusat. Kursi dewan legislatif yang diperebutkan lebih sedikit dibanding calon yang maju. Alhasil harus ada upaya lebih dalam menggaet suara masyarakat. Ini tentu membutuhkan biaya tinggi, sebab kontestasi membutuhkan ongkos yang tidak sedikit. Segala macam cara digunakan bahkan sampai pada politik uang.

Dari sisi individu, mereka rela melakukan segala macam cara untuk menduduki jabatan legislatif yang menjadi impian masyarakat. Jabatan legislatif dinilai sebagai prestisius, dengan menjabat akan mendapatkan mudah mendapatkan materi lebih dan berbagai fasilitas lain. Sehingga ketika usaha maksimal yang dilakukan tidak membuahkan hasil, maka jiwanya menjadi stres diakibatkan oleh kekuatan mental yang lemah.

Mental yang lemah merupakan fakta dari hasil sistem pendidikan gagal membentuk pribadi yang kuat dan mulia. Hal ini terbukti dengan meningkat nya pasien gangguan mental setelah pemilu.

Oleh sebab itu dibutuhkan sistem alternatif yang menjamin ketenangan hidup bagi rakyatnya, gaya hidup sederhana, dan menjamin kehidupan layak.

Perlu dipahami bersama bahwa kekuasaan dan jabatan adalah amanah yang harus dijalankan sesuai perintah Allah Swt. Dalam sistem pemerintahan Islam, terdapat majelis umat (MU). Mereka dipilih langsung oleh masyarakat sebagai representasi suara rakyat, mereka dipilih karena memiliki pribadi yang kuat, dan penuh dengan ketakwaan. Sehingga jika diberi amanah mereka dipastikan menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya, yaitu menyalurkan aspirasi dari rakyat, bukan pesanan para pemodal atau pemilik kepentingan.

Di sisi lain majelis umat tidak berperan membuat dan mengatur Undang-Undang. Jadi tidak ada tawar menawar kepentingan dengan pengusaha. Oleh sebab itu kecil kemungkinan ada peluang korupsi. Di samping itu dalam sistem pemerintahan Islam didukung pula dengan sistem hukum yang tegas, perekonomian kuat tanpa riba, dan seluruh sistem pendukung lain yang komprehensif.

Dengan dukungan sistem dan kepribadian yang kuat maka akan lahir insan yang amanah, profesional, berintegritas, bertanggung jawab serta memiliki jiwa yang kuat. Harta, jabatan dan materi tidak lagi menjadi sesuatu yang menyilaukan di dunia. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button