Opini

Kebocoran Data Penahanan Etnis Uighur, Momentum Pemersatu Kaum Muslim

Hanya dengan penerapan syariat Islam, umat Muslim akan bersatu untuk mencegah pertumpahan darah manusia sekecil apa pun itu. Muslim akan terlindungi jiwa, raga, dan akidahnya.


Oleh Ami Pertiwi Suwito
(Mahasiswi Universitas Gunadarma)

JURNALVIBES.COM – Ketika serangan rudal oleh zionis sudah menjadi makanan sehari-hari bagi saudara-saudara kita di Palestina, kaum Muslim hanya bisa mengirimkan donasi, menjadi relawan, menerima pengungsi, dan memutuskan hubungan diplomasi dengan Israel.

Ketika kaum Muslim di Rohingya tidak diberi kewarganegaraan oleh pemerintah Myanmar, bantuan untuk mereka hanya tersisa donasi, relawan, dan tempat pengungsian. Sebab banyak pemimpin-pemimpin Muslim yang masih menjalin hubungan diplomasi dengan pemerintah Myanmar. Namun ketika Muslim etnis Uighur di Xinjiang dipersekusi dalam kamp konsentrasi, kita bisa bantu apa?

Dulu, Dr. Zakir Naik pernah menyatakan bahwa kaum Muslim yang paling menderita saat ini adalah Muslim etnis Uighur di Xinjiang. Sebab, mereka diserang langsung dari akidah Islam. Jangankan shalat Id, mengumandangkan adzan, memakai cadar, dan berjenggot panjang, shalat wajib lima waktu di Xingjiang saja sudah tidak aman akibat cengkeraman pemerintah Tiongkok yang begitu ketat terhadap etnis Uighur.

Tidak berhenti di Kota Xinjiang saja, kaum Muslim Uighur yang tersebar di dalam dan di luar negara Tiongkok akan dilacak oleh pemerintah Tiongkok untuk diawasi gerak-geriknya. Seperti kasusnya Mihrigul Tursun, etnis Uighur yang baru pulang dari luar negeri ke Tiongkok bisa ditangkap oleh aparat hanya karena masalah etnis. Untuk melengkapi deretan isu tadi, pemerintah Tiongkok juga pandai menutupi penyiksaan terhadap etnis Uighur dengan berbagai propaganda.

Namun atas izin Allah Swt., pada Mei 2022 sejumlah data polisi Tiongkok mengenai persekusi terhadap etnis Uighur dalam kamp konsentrasi akhirnya bocor. Kebocoran data ini mengungkapkan identitas orang-orang Uighur yang ditahan dalam kamp konsentrasi di Tiongkok. Selain identitas, bentuk penyiksaan terhadap etnis Uighur juga tergambar dengan rinci. Terbukti aparat Tiongkok memberlakukan kerja paksa, indoktrinasi politik, penyiksaan, dan sterilisasi paksa dalam kamp-kamp konsentrasi. Maka dari itu, sudah jelas penindasan terhadap etnis Uighur oleh aparat Tiongkok itu nyata dan harus dihentikan.

Kebocoran data mengenai kondisi penahanan etnis Uighur di kamp konsentrasi Xinjiang seharusnya menjadi momentum bagi kaum Muslim untuk bersatu melawan aparat-aparat zalim. Namun kita perlu bertanya kembali dalam benak kita, apakah kebocoran data saja cukup untuk menyatukan kekuatan Kaum Muslim di dunia? Mau ada kebocoran data vital sebesar apa pun, itu belum bisa mengangkat penderitaan kaum Muslim Uighur selama kaum Muslim bercerai-berai oleh batas-batas nasionalisme.

Kekuatan militer, politik, dan IPTEK yang bisa melawan kezaliman pemerintah Tiongkok memang sudah ada di berbagai belahan dunia ini. Namun kekuatan-kekuatan tersebut tidak bisa begitu saja menyerang aparat-aparat zalim. Sebab aparat-aparat zalim tersebut dilindungi oleh lembaga-lembaga internasional seperti Perseritakan Bangsa-Bangsa (PBB)/United Nations (UN).

Perlu dipahami juga, tanpa adanya kebocoran data polisi Tiongkok seperti baru-baru ini, masih ada banyak bukti bahwa pemerintah Tiongkok sudah mempunyai niat buruk terhadap etnis Uighur di Xinjiang. Jika dilihat dari sejarah, Republik Rakyat Tiongkok mengklaim wilayah Turkistan Timur (sekarang dinamai Xinjiang) sebagai bagian dari negaranya sejak 1949. Tujuan pengklaiman wilayah tersebut oleh pemerintah Tiongkok untuk mengeruk manfaat seperti sumber daya alam, lokasi strategis untuk proyek OBOR (One Belt One Road), dan lain sebagainya.

Namun di balik manfaat yang bisa dikeruk di wilayah Xinjiang, ada satu masalah. Etnis Uighur yang sudah lama menetap di Xinjiang sebelum diklaim oleh Tiongkok itu mayoritas beragama Islam. Para Muslim Uighur pun menjalankan kewajiban Islam dengan semangat. Itu merupakan masalah besar bagi pemerintah Tiongkok mengingat Republik Rakyat Tiongkok masih menganut komunisme sebagai ideologinya.

Sedangkan Islam sendiri bertolak belakang dengan ideologi bengis tersebut yang tidak mengakui keberadaan Tuhan. Islam juga menentang pengambilan sumber daya alam yang sewenang-wenang sebagaimana yang terjadi di wilayah Xinjiang. Maka tak heran jika penyerangan aparat Tiongkok kepada kaum Muslim Uighur itu dimulai dari akidah Islam.

Saudara-saudara Muslim semua, sudah saatnya kita mengambil tindakan tegas mengakhiri penderitaan kaum Muslim di Uighur dan di seluruh dunia. Bentuk tindakkan tegas kita adalah dengan menjadi pengemban dakwah ideologis untuk mengembalikan penerapan syariat Islam di muka bumi ini.

Sebab hanya dengan penerapan syariat Islam, umat Muslim akan bersatu untuk mencegah pertumpahan darah manusia sekecil apa pun itu. Muslim akan terlindungi jiwa, raga, dan akidahnya. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button