Opini

BBM Bersubsidi Semakin Langka, Masyarakat Siap Merana Karena Kenaikan Harga

Islam mengatur sangat jelas dan terperinci. Begitupun terkait masalah BBM ini, dalam Islam tidak akan ada solusi mengurangi atau merampas hak rakyat. Karena fokus utama adalah kesejahteraan rakyat. Kalaupun ketika baitul maal (kas negara ) kosong, maka negara akan memungut pajak pada mereka yang mampu atau memiliki kelebihan harta saja.


Oleh Ana Dia Friska

JURNALVIBES.COM – Dari awal tahun 2022, Bahan Bakar Minyak ( BBM ) sudah beberapa kali mengalami kenaikan harga. Akibat kenaikan harga BBM, banyak kebutuhan pokok lain yang juga naik harganya. Bagaimana tidak BBM merupakan salah satu komoditas yang paling tinggi digunakan dalam sektor industri, transportasi, dan kelistrikan. Sehingga ketika BBM naik, maka kebutuhan pokok yang lain dipastikan akan naik.

Setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi pada 10 Juli 2022 lalu, banyak masyarakat akhirnya memilih menggunakan BBM subsidi jenis pertalite dan solar, karena harganya lebih murah. Ketika ada yang murah kenapa harus beli yang mahal. Akhirnya penggunaan BBM subsidi tidak tepat sasaran, sehingga Pertamina sempat membuat aplikasi mypertamina untuk memfilter pengguna mana yang seharusnya menggunakan BBM subsidi dan nonsubsidi.

Namun langkah filterisasi belum sempurna karena banyak masyarakat yang merasa terbebani dengan penggunaan aplikasi tersebut. Sehingga kuota BBM subsidi semakin langka, bahkan diperkirakan akan habis pada Oktober 2022 ini.

Pengamat Energi Watch Mamit Setiawan memperkirakan stok Pertalite akan habis di bulan Oktober 2022 apabila tidak ada penambahan kuota. Adapun kuota Pertalite yang diberikan pemerintah hingga akhir tahun ini sebanyak 23,1 juta kiloliter (KL), sementara konsumsi BBM jenis Pertalite hingga Juli 2022 sudah mencapai 16,8 juta KL atau setara dengan 73,04 persen dari total kuota yang ditetapkan. Sementara kuota solar diberikan 14,91 juta KL, sedangkan hingga akhir Juli 2022 sudah digunakan 9,9 juta KL atau tersisa 5,01 juta KL. ( kumparanbisnis.com, 14/08/2022 )

Inilah salah satu risiko hidup dalam sistem kapitalisme, dimana hak rakyat seolah menjadi beban bagi APBN negara. BBM subsidi memang sudah menjadi hak bagi rakyat tidak memandang apakah dia warga mampu atau kurang mampu, semua warga negara Indonesia memiliki hak yang sama. Ketika negara mengalami masalah, kuota BBM bersubsidi akan habis, tugas negara mencari solusi untuk menambah kuota atau menambah anggaran untuk BBM bersubsidi ini. Bukan malah berfikir untuk mencabut subsidi atau menambah beban rakyat dengan menaikan harga BBM. Tapi dalam sistem kapitalisme, dimana keuntungan yang menjadi tujuan utamanya, entahlah keuntungan itu diperuntukan pada siapa, hak rakyat dipangkas sedikit demi sedikit, harta dan tenaga rakyat dikuras habis-habisan.

Kita tahu bahwa problem masalah di negeri ini berasal dari tata kelola sistem yang salah. Seandainya sumber daya alam yang banyak di negeri ini dikelola dengan benar oleh negara, hasilnya sangat mampu untuk mensejahterakan rakyatnya. Namun faktanya sumber daya alam kita dikelola oleh swasta bahkan asing, negara kita hanya mendapatkan sedikit dari jumlah yang dihasilkan oleh sumber daya alam itu, maka sudah pasti hasilnya takkan mencukupi untuk kebutuhan rakyat dan negara. Inilah buah dari sistem kapitalisme yang melegalkan kepemilikan umum menjadi kepemilikan individu.

Sangat berbeda dengan sistem Islam. Dalam sistem Islam, kepemilikan harta sangat diatur, mana yang boleh dimiliki individu, dimiliki oleh umum, dan dimiliki oleh negara. Kepemilikan individu contohnya seperti rumah, kendaraan, dan tanah yang luasnya tidak begitu besar. Kepemilikan umum contohnya seperti, Air, padang rumput, dan api. Kepemilikan umum ini tidak boleh dikuasai oleh negara apalagi individu. Namun, pengelolaan kepemilikan umum dilaksanakan oleh negara sebagai wakil rakyat. Sedangkan kepemilikan negara adalah sumber daya alam dalam wilayah tersebut atau hasil BUMN, harta ghanimah, fa’i , kharaj, dll.

Islam mengatur sangat jelas dan terperinci. Begitupun terkait masalah BBM ini, dalam Islam tidak akan ada solusi mengurangi atau merampas hak rakyat. Karena fokus utama adalah kesejahteraan rakyat. Kalaupun ketika baitul maal (kas negara ) kosong, maka negara akan memungut pajak pada mereka yang mampu atau memiliki kelebihan harta saja.

Sungguh hidup dalam sistem Islam menjadi impian setiap Muslim, maka mari terus kita perjuangan. Campakan sistem kapitalisme yang sudah bobrok ganti dengan sistem Islam yang mulia. Wallahu a’lam bisshawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button