Islam Menyejahterakan Namun Ditinggalkan, Kapitalisme Demokrasi Membunuh Tapi Dijaga Tetap Utuh

Namun sayangnya hari ini, penguasa menjadikan kebutuhan rakyat akan energi ini sebagai lahan mencari keuntungan. Mirisnya lagi, para pecinta demokrasi justru mempertahankan sistem kehidupan ini yang jelas-jelas telah menyengsarakan mereka seumur hidup. Padahal Islam menyejahterakan mereka, tapi justru mereka tinggalkan. Sementara kapitalisme demokrasi yang nyata-nyata membunuh rakyat, malah mereka jaga agar tetap utuh.
Oleh Ita Harmi
JURNALVIBES.COM – Sungguh tega, satu kata yang tepat untuk pembuat kebijakan negeri ini. Bagaimana tidak? Di tengah melonjaknya harga sembako dan bumbu dapur lainnya, pada bulan Maret 2024 ini pemerintah juga memutuskan untuk menaikkan tarif listrik. Alasan kenaikan tarif listrik kali ini alasannya untuk menjaga saya saing pelaku usaha.
Seperti dilansir dari Kompas (23/02/2024), Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Jisman P Hutajulu mengatakan tarif listrik Januari sampai Maret 2024 diputuskan tetap naik untuk menjaga daya saing pelaku usaha, menjaga daya beli masyarakat dan menjaga tingkat inflasi di tahun yang baru.
Perekonomian rakyat sedang tidak baik-baik saja. Melihat antusiasme ibu-ibu yang rela antri berdesakan berjam-jam untuk mendapatkan sejumlah sembako murah, mengindikasikan bahwa kebutuhan mereka sedang tidak terjangkau di pasaran dengan harga normal. Namun tanpa empati, pejabat berwenang semena-mena menaikkan tarif listrik. Bagaimana pelaku usaha bisa bersaing bila modalnya bertambah? Dan bagaimana pula daya beli masyarakat bisa terjaga bila harga segala kebutuhan dasar mereka meroket? Sementara utang negara terus bertambah. Dengan kompleksitas problematika ini, lalu bagaimana tingkat inflasi bisa direduksi? Tentu alasan yang diberikan oleh pihak negara melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN) tersebut sangat tidak masuk di akal.
Terlepas dari kontroversi perhitungan total suara pada putaran pemilu tahun ini, bila menilik kembali visi misi kepemimpinan para Capres dan Cawapres yang ada, tidak satu pun paslon yang benar-benar menyelesaikan masalah rakyat hingga ke akar-akarnya. Menyinggung sedikit tentang problematika TKI misalnya, harusnya yang perlu dipikirkan adalah bagaimana rakyat Indonesia ini tidak harus sampai bekerja jauh-jauh keluar negeri. Tentu saja menjadi TKI bukan dengan tanpa resiko. Betapa banyak para TKI yang dianiaya majikannya di luar negeri, bahkan ada yang diadili sampai dihukum mati, pulang ke Indonesia berada dalam peti.
Sebagai pemimpin tentunya mereka para paslon dengan kewenangan yang akan dimilikinya, harusnya bisa membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya di dalam negeri. Bukankah setiap warga negara ini memiliki hak untuk bertahan hidup di tanahnya sendiri? Namun dalam pemaparan visi misinya, dengan membanggakan TKI sebagai pahlawan devisa agar negara mendapatkan keuntungan materi, para paslon justru hanya beretorika dengan perbaikan perkara administrasi dan pengembangan skill para TKI. Sungguh menyedihkan.
Inilah kenapa tidak ada harapan yang berarti dalam ekosistem kapitalisme demokrasi. Penderitaan rakyat dijadikan bahan komoditi oleh pemimpinnya sendiri. Negara berdiri diatas lautan airmata penduduk negeri. Setiap kebutuhan hajat hidup rakyat merupakan bentuk jual beli antara rakyat dengan negara. Pendidikan, kesehatan, keamanan, sandang, pangan, dan papan semuanya adalah transaksi jual beli rakyat dengan negara. Karena semua hal tersebut ditanggung sendiri oleh rakyat. Termasuk perkara tarif listrik.
Begitulah cara roda perekonomian negara kapitalisme demokrasi berjalan dalam relnya. Kebutuhan rakyat bukannya dilayani, justru dijadikan sebagai penggerak roda perekonomian. Tragis.
Anehnya, masih banyak orang-orang yang ingin bertahan dengan cara hidup seperti ini. Terlebih para influencer dan para buzzer yang mampu mempengaruhi sekian juta kepala melalui media sosial. Mereka bilang negeri ini sudah fixed dengan kapitalisme demokrasi, konstitusi adalah harga mati, bahkan lebih mati daripada kitab suci. Padahal di lain sisi, untuk kebutuhan hidupnya saja mereka harus berjuang sendiri setengah mati. Inilah sebuah ironi.
Demikianlah akal orang-orang yang tidak tertunjuki oleh petunjuk ilahi. Padahal kitab suci yang mereka abaikan selama ini adalah jalan hidup yang mumpuni sebagai solusi.
Sang khatimul anbiyaa’ yang menerima kitab suci dari ilahi rabbi, sudah berpesan di jauh-jauh hari. Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdulah bin Said, dari Abdullah bin Khirasy bin Khawsyab asy-Syaibani, dari al-‘Awam bin Khawsyab, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api”.
Maksud dari ketiga unsur dalam redaksi hadits di atas adalah, bahwasanya manusia sebagai warga negara, baik muslim ataupun nonmuslim berserikat dalam pemanfaatan ketiga unsur tadi. Bukan berserikat karena zatnya seperti yang dipraktekkan penguasa hari ini, akan tetapi karena sifatnya yang bermanfaat besar untuk kemaslahatan umum. Dalam unsur air mampu menghasilkan energi listrik, sehingga pemanfaatan energi ini bisa dipakai secara bersama-sama oleh masyarakat luas.
Tidak ada seorang pun boleh menghalangi orang lain untuk memanfaatkan energi ini apalagi negara. Sehingga air karena sifat manfaatnya ini, tidak boleh dimiliki oleh individu ataupun pihak swasta. Kepemilikannya adalah kepunyaan umum, dimana negara bertindak sebagai pihak pengelola dan penjaga energinya. Karena kepemilikannya adalah umum, artinya masyarakat tidak dikenakan biaya untuk pemanfaatannya. Ketiadaan energi ini akan membuat masyarakat berselisih dalam mencarinya, maka dari itu manusia berserikat di dalamnya.
Sedangkan biaya pembuatan sarana prasarana, ataupun perawatannya bukan diambil dari pemakaian rakyat akan energi listrik seperti saat ini. Namun dikeluarkan dari hasil kekayaan SDA dalam negeri, zakat, fa’i, jizyah, kharaj, dan sumber-sumber yang lain dari pendapatan negara. Jadi rakyat tidak dibebani dengan sesuatu yang sebenarnya adalah hak mereka untuk menikmati.
Namun sayangnya hari ini, penguasa menjadikan kebutuhan rakyat akan energi ini sebagai lahan mencari keuntungan. Mirisnya lagi, para pecinta demokrasi justru mempertahankan sistem kehidupan ini yang jelas-jelas telah menyengsarakan mereka seumur hidup. Padahal Islam mensejahterakan mereka, tapi justru mereka tinggalkan. Sementara kapitalisme demokrasi yang nyata-nyata membunuh rakyat, malah mereka jaga agar tetap utuh.
Inilah kehidupan manusia akhir zaman. Mereka lupa atau tidak sadar, baik rakyat maupun penguasa kelak akan dihisab perbuatannya di yaumil akhir oleh Allah Yang Tak Pernah Berakhir. Maka kembalilah dalam tuntunan hidup yang sudah Allah berikan. Islam yang totalitas akan menenangkan di dunia, membahagiakan di akhirat.
“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (TQS. Al Maaidah : 50)
Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






