Opini

Peristiwa Pondok Pesantren Al-Khoziny, Fasilitas Pendidikan Butuh Andil Negara

Sejarah mencatat, sebelum adanya lembaga pendidikan formal masjid dijadikan sebagai pusat pendidikan. Masjid-masjid yang dibangun dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan sarana penunjang pendidikan. Seperti adanya ruang-ruang untuk belajar serta perpustakaan.


Oleh Diaz Ummu Ais

JURNALVIBES.COM – Dunia pesantren berduka. Senin sore tanggal 29 September 2025 bangunan musala pondok pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo ambruk menimpa para santri yang mengadakan salat ashar berjamaah dilantai dasar. Bangunan setinggi empat lantai itu menimpa sebanyak 171 santri saat tengah mengerjakan tahap akhir pembangunan. 104 di antaranya berhasil dievakuasi dengan selamat, sedangkan 67 diantaranya meninggal dunia.

Salah satu arsitek Ariko Andikabina menyampaikan terkait adanya indikasi kegagalan bangunan saat menganalisa foto dan video di lokasi kejadian.
Ariko menyampaikan, jika banyak gambar yang memperlihatkan kolom yang tidak mampu menahan beban. Apalagi beban tersebut semakin bertambah saat dilakukan pengecoran lantai paling atas, (Kompas, 30-9-2025)

Mengantisipasi kejadian serupa terulang kembali, pemerintah berencana membangun kembali Pondok Pesantren Al-Khoziny pasca peristiwa ambruknya bangunan musala menggunakan dana dari APBN.
Kendati demikian, pernyataan terkait penggunaan APBN menuai kritik. Diantaranya dari anggota DPR Komisi VIII Fraksi Golkar, Atalia Praratya, ia mendesak agar pemerintah mengkaji ulang penggunaan anggaran dana dari APBN untuk keperluan memperbaiki Ponpes Al-Khoziny. (Detiknews, 10-10-2025)

Ketimpangan Fasilitas pendidikan

Berkaca pada peristiwa ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Selain disinyalir karena kurang kuatnya struktur bangunan juga ada indikasi jika tidak adanya izin bangunan. Faktanya bukan hanya Pondok Pesantren Al-Khoziny saja yang tidak memiliki izin bangunan, masih ada banyak pondok pesantren lainnya. Sehingga minim adanya uji kelayakan bangunan dilakukan.

Selain itu, kebanyakan bangunan pondok pesantren dibangun dari hasil dana swadaya ataupun sumbangan dari wali santri sendiri. Hal yang akhirnya menimbulkan ketimpangan. Di satu sisi pondok pesantren modern dengan biaya pendidikan tinggi akan mampu berlomba-lomba membangun gedung-gedung pondok pesantren yeng megah. Di sisi lain masih banyak pondok pesantren yang dibangun seadanya. Bahkan pondok pesantren yatim piatu dan dhuafa yang dana operasionalnya mengandalkan sumbangan dari para dermawan.

Padahal, mereka semua sama-sama lembaga pendidikan yang mencetak generasi penerus bangsa. Banyak para ulama besar yang lahir dari pondok pesantren. Para orang tua pun berharap menitipkan anak-anak mereka di pondok dengan harapan kelak akan menjadi seorang Muslim yang taat, dan mampu menyebarkan apa yang mereka dapatkan selama mengenyam pendidikan di pondok pesantren kepada masyarakat lebih luas.

Peran Negara dalam Menfasilitasi Pendidikan

Hal ini tentu saja berbeda dengan Islam yang mewajibkan negara menyediakan fasilitas untuk masyarakat. Baik sekolah, pondok pesantren, perpustakaan, lembaga penelitian serta universitas adalah fasilitas pendidikan yang harus disediakan negara untuk warga negaranya. Biaya pendidikannya pun akan dipungut seminim mungkin bahkan bisa gratis. Berbeda dengan era kapitalisme hari ini, dimana pendidikan bisa dikapitalisasi. Selama memberikan keuntungan bagi pihak tertentu.

Negara akan mempermudah izin pendirian bangunan untuk fasilitas pendidikan. Tidak hanya itu, negara juga akan mendanai pembangunan fasilitas pendidikan yang sesuai standar keselamatan, kenyamanan serta memiliki kualitas yang baik. Near juga tidak akan membeda-bedakan antar sekolah swasta maupun negeri. Baik dikota maupun wilayah terpencil sekalipun. Sumber dana negara berasal dari baitul maal ataupun kas negara.

Sehingga para pelaku pendidikan bisa lebih fokus mengajar serta mendidik untuk mencetak generasi penerus bangsa yang terdepan dari sisi sain dan teknologi serta kuat dan tangguh dari sisi keimanan mereka.

Pendidikan Era Kekhilafahan Abbasiyah

Pada masa kekhilafahan Abbasiyah, sistem pendidikan sangat berkembang pesat. Sehingga baik anak-anak maupun orang dewasa banyak yang menuntut ilmu di pusat-pusat pendidikan yang ada.

Tidak jarang mereka harus jauh meninggalkan kampung halaman untuk menimba ilmu pengetahuan. Dan pada masa itu perkembangan pendidikan ditandai dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan.

Sejarah mencatat, sebelum adanya lembaga pendidikan formal masjid dijadikan sebagai pusat pendidikan. Masjid-masjid yang dibangun dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan sarana penunjang pendidikan. Seperti adanya ruang-ruang untuk belajar serta perpustakaan.

Selain itu, pada masa kekhilafahan Abbasiyah juga dibangun beberapa bangunan untuk fasilitas pendidikan. Di antaranya:

  1. Masjid, tak hanya berfungsi sebagai beribadah saja, masjid juga difungsikan sebagai lembaga pendidikan. Dimana ulama dan para pelajar berkumpul.
  2. Madrasah, seperti madrasah Annidzamiyah yang didirikan oleh Nidzamul Muluk dan tersebar di berbagai kota sebagai lembaga formal.
  3. Perpustakaan (Baitul Hikmah) adalah opusat studi di kota Bagdad, ia berfungsi sebagai perpustakaan , [usat penerjemahan dan kademi tempat berbagai ilmu berkembang.
  4. Kutab adalah lembaga nonformal bagi anak-anak. Disana diajarkan membaca dan menulis.
  5. Rumah untuk para ulama, tempat informal dimana para ulama mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya.
  6. Observatorium, dibangun untuk mendukung studi astronomi dan ilmu pengetahuan lainnya.
  7. Toko-toko kitab, menjadi tempat yang menyediakan berbagai buku dan kitab.

Demikianlah, bagaimana gambaran singkat, bagaimana negara mampu mewujudkan fasilitas pendidikan yang memadai. Hal ini tidak lepas dari sistem yang diadopsi oleh negara. Sistem yang berasal dari Sang Pencipta, sehingga sesuai dengan fitrah manusia. Sistem yang mampu mengayomi seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button