Opini

Ironi Kenaikan Indeks Pembangunan Gender, Perempuan Masih Menderita

Islam memberikan solusi komprehensif melalui berbagai mekanisme yang dapat diterapkan. Bukan solusi yang malah mengundang ironi akibat salah kaprah dalam memandang masalah perempuan


Oleh Astuti Rahayu Putri
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Meningkatnya Indeks Pembangunan Gender dinilai oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) sebagai indikasi bahwa perempuan semakin berdaya.

Deputi Bidang Kesetaraan Gender KemenPPPA, Lenny N Rosalin mengatakan bahwa perempuan semakin berdaya, mampu memberikan sumbangan pendapatan signifikan bagi keluarga, menduduki posisi strategis di tempat kerja, dan terlibat dalam politik pembangunan dengan meningkatnya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif. Ini ditunjukkan dengan meningkatnya Indeks Pemberdayaan Gender. Memasuki tahun 2024 ini KemenPPPA berkomitmen akan terus meningkatkan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (antaranews, 6/1//2024).

Melalui tingginya angka Indeks Pembangunan Gender (IPG) saat ini dianggap bahwa perempuan semakin berdaya. Namun sayangnya hal itu tak dibarengi dengan meningkatnya kesejahteraan perempuan. Justru makin banyak masalah yang dihadapi kaum perempuan saat ini. Mulai dari tingginya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan seksual. Sehingga ini menjadi bukti kondisi perempuan kian menderita. Walaupun perempuan sudah dianggap berdaya. Ironis memang. Mengapa di saat perempuan dianggap kian berdaya namun tak memunculkan kesejahteraan? Apa penyebabnya? Lalu bagaimana solusi pasti bagi kesejahteraan perempuan?

Paradigma saat ini kaum perempuan sering dinggap berada pada titik terendah. Seperti posisinya berada di bawah kaum laki-laki khususnya dalam hal kepemimpinan dan pengambil keputusan. Tugas mengurus anak dan rumah hanya dibebankan pada perempuan sehingga dapat menghambat karirnya di luar rumah, kemudian perempuan selalu menjadi objek kekerasan baik fisik maupun seksual. Paradigma ini yang digunakan oleh para kaum feminis untuk memperjuangkan kesetaraan gender demi menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi perempuan. Mereka berupaya untuk menjadikan posisi perempuan harus mencapai kesetaraan dengan laki-laki dalam hal apa pun. Oleh karenanya maka ide pemberdayaan perempuan gencar dilakukan saat ini agar perempuan semakin berdaya baik dari sisi ekonomi, pendidikan, sampai pada politik.

Namun, benarkah pemberdayaan perempuan dapat mewujudkan kesejahteraan dan menuntaskan segala permasalahan perempuan saat ini? Faktanya, masalah perempuan saat ini kian mengerikan. Buktinya, angka kekerasan terhadap perempuan masih tinggi. Data dari KemenPPPA yang diinput dari tanggal 1 Januari 2024 sampai saat ini, terdapat 638 kasus kekerasan yang korbannya perempuan. Jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah kasus kekerasan yang korbannya laki-laki berjumlah 152 kasus.

Oleh karena itu, paradigma saat ini telah salah kaprah dalam melihat permasalahan perempuan. Masalah perempuan tak bisa dituntaskan dengan pemberdayaan perempuan. Sehingga perlu kita cari tahu apa akar masalah sebenarnya agar solusi pun tepat.

Sebenarnya masalah perempuan saat ini bukan karena dominasi laki-laki terhadap perempuan, atau setara atau tidak setaranya posisi mereka. Akan tetapi akar masalahnya terdapat pada sistem saat ini.

Sistem saat ini yang bercorak kapitalisme membuat kepentingan tertinggi ada di pihak pemilik modal atau penguasa, bukan lagi di pihak rakyat. Sehingga kesejahteraan rakyat pun terabaikan. Tak heran, jika tingkat kemiskinan meningkat. Hal ini tentu berimbas pada kesejahteraan perempuan yang akhirnya terpaksa turut menanggung beban ekonomi keluarga. Ketika perempuan telah terkuras energinya karena sibuk dengan pekerjaannya. Tentu, sampainya ia di rumah tak bisa fokus lagi mengurus rumah maupun anak.

Hal ini dapat menjadi faktor yang melatarbelakangi ketidakharmonisan rumah tangga yang berujung pada kekerasan maupun perceraian.
Selain itu, buah dari sistem kapitalisme menjadikan standar keberhasilan berdasarkan tolok ukur materi dan ekonomi. Layaknya, ide pemberdayaan perempuan yang menilai bahwa perempuan yang bisa mandiri secara ekonomi, berkarier di ranah publik, dan berkontribusi dalam dunia politik baru dikatakan berdaya. Sehingga hal ini membuat para perempuan tersilaukan dengan karier di luar dibandingkan karier sebenarnya yaitu di dalam rumah.

Imbasnya bisa berdampak pada sisi psikologis anak yang merasa kurang perhatian dari sang ibu. Akhirnya anak pun mencari pelarian lainnya yang bisa saja ke arah yang negatif. Maka dari itu perlu untuk merujuk pada sistem yang benar agar paradigma pada malasah perempuan dan solusinya tidak salah.

Solusi yang benar adalah dengan kembali pada Islam. Karena seluruh aturan dan solusinya berasal dari Sang Pencipta yang Maha Benar, yaitu Allah Swt. Islam, tidak memandang perempuan berdaya dari segi materi maupun ekonomi. Akan tetapi dalam Islam perempuan dipandang mulia karena perannya sebagai al-umm wa rabbatul bayt (ibu dan manajer rumah tangga). Kemulian peran seorang ibu tercermin melalui hadist Rasulullah dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi: “wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).

Kemudian sistem Islam pun memiliki beberapa mekanisme dalam mewujudkan kesejahteraan dan menjaga fitrah perempuan. Perempuan tidak bebankan untuk mencari nafkah. Kewajiban mencari nafkah ada di pundak laki-laki. Negara wajib menjamin tersedianya kebutuhan pokok rakyat seperti layanan kesehatan dan pendidikan yang gratis dan berkualitas, termasuk juga lapangan pekerjaan yang memadai. Perempuan boleh memiliki peran publik misalnya menjadi dokter, guru, perawat, dan lain-lain. Akan tetapi tidak melalaikan peran sesungguhnya yaitu sebagai ibu dan pengurus rumah tangga.

Negara bertanggung jawab menciptakan ketakwaan pada setiap umat dengan menyelenggarakan sistem pendidikan yang kurikulumnya berbasis akidah Islam. Sanksi hukum dalam sistem Islam memberikan efek jera. Sehingga dapat mencegah individu melakukan tindakan kriminal.

Jelas bagaimana Islam memberikan solusi komprehensif melalui berbagai mekanisme yang dapat diterapkan. Bukan solusi yang malah mengundang ironi akibat salah kaprah dalam memandang masalah perempuan dan solusinya. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button