Opini

Miris, Perilaku Anak-anak Makin Sadis

Islam memiliki mekanisme komprehensif dalam membangun kepribadian rakyatnya pada semua lapisan usia sehingga terwujud individu beriman, berakhlak mulia dan terampil.


Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Lagi-lagi kasus bullying pada anak-anak, sehingga mengakibatkan kematian kembali terjadi.

Seperti yang dilansir kompas.com (20/5/2023), MHD usia 9 tahun, bocah kelas 2 di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar), meninggal dunia akibat dikeroyok oleh kakak kelasnya pada Senin (15/5/2023).

Mengutip tribunnews.com ( 21/5/2023), korban tidak mau berterus terang kepada keluarga. Namun kepada dokter korban berterus terang bahwa dirinya kesakitan karena dikeroyok kakak kelasnya. Bahkan sebelum meninggal dunia, korban sempat menyebut nama salah seorang terduga pelaku pengeroyokan. Nama itu disebut pada detik-detik menjelang MHD mengembuskan napas terakhir kepada kakek korban, MY (52) kemudian sang cucu menutup mata untuk selamanya.

Kasus bullying semakin marak, semakin sadis dan bengis bahkan terjadi di sekolah dasar. Ini bukan merupakan kasus yang baru dalam dunia pendidikan. Di sistem kapitalis bullying telah menjadi tren dikalangan anak sekolah dan ini menunjukkan bahwa moral anak semakin terkikis. Selama belum ada langkah kongkret dari pemerintah untuk menurunkan kasus ini, nyatanya masih bermunculan korban jiwa dari anak-anak akibat perundungan atau bullying yang dilakukan di lingkungan sekolah.

Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mengatakan bahwa kasus tewasnya siswa SD di Sukabumi karena diduga dikeroyok oleh teman sekolah menambah panjang deretan korban meninggal karena perundungan di lingkungan sekolah. Kasus ini kembali menjadi warning bagi semua stake holder pendidikan jika perundungan tidak hanya dosa besar tetapi juga ancaman nyata.

Huda juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data dari KPAI, sejak tahun 2011-2019 mencatat ada 574 anak laki-laki yang menjadi korban bullying, 425 anak perempuan jadi korban bullying di sekolah. 440 anak laki-laki dan 326 anak perempuan sebagai pelaku bullying di sekolah. Dan sepanjang tahun 2021 setidaknya ada 53 kasus perundungan yang terjadi di berbagai jenjang di satuan Pendidikan. Jumlah ini menurun karena sebagian besar sekolah ditutup karena pandemi Covid-19.

Setelah dilakukan pembelajaran tatap muka kasus perundungan kembali naik. Seperti dalam beberapa waktu terakhir ini muncul kasus perundungan yang memakan korban jiwa di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sepanjang tahun 2022 misalnya KPAI mencatat kenaikan signifikan kasus bullying yakni sekitar 226 kasus, atau meningkat empat kali lipat dibandingkan tahun 2021.

Ini akibat dari sistem pendidikan yang diterapkan hari ini berbasis sekuler liberal, dan inilah yang membentuk anak-anak melakukan perilaku sadis dan bengis. Sistem ini bisa menjadikan anak-anak teracuni dengan pemikiran yang liar dan kejam, dan kasusnya terus mengalami peningkatan bahkan sampai memakan korban. Juga akibat hilangnya peran keluarga dalam pendidikan anak, akibat dari kesibukan orang tua menjadikan pendidikan anak terlantar dan kurang adanya kasih sayang.

Pola asuh sekuler yang semakin menjauhkan anak dari agama dan membiarkan anak melakukan kebebasan tanpa pantauan.
Juga akibat tontonan kekerasan baik dalam film ataupun game yang marak dan bisa mudah diakses oleh anak-anak. Yang menjadikan tontonan tersebut membentuk perilaku dan bisa memicu pembentukan perilaku anak yang semakin sadis dan bengis. Karena anak akan mencontoh apa yang dilihat, dikarenakan tidak adanya pendampingan dan bimbingan dari keluarga.

Hilangnya peran masyarakat yang mau peduli dengan kualitas generasi juga ikut menyumbang andil, karena sistem kapitalis menjadikan masyarakat semakin individualis dan acuh dengan sekitar. Masyarakat semakin tidak peduli terhadap kondisi dan perilaku anak-anak. Hal yang lebih utama karena hilangnya peran negara sebagai pelindung. Seharusnya negara berkewajiban untuk bisa menjaga generasi dan anak-anak agar tidak terpapar segala jenis tontonan yang meracuni pemikirannya. Namun negara malah melegalkan segala macam tontonan hanya demi keuntungan tanpa memfilter lebih dulu.

Dengan perilaku sadis dan bengis yang dilakukan anak-anak bisa berakibat akan merusak tatanan sosial. Anak-anak akan jauh dari rasa aman karena pelakunya anak-anak dan korbannya juga anak-anak. Akan bisa menciptakan hukum rimba pada pergaulan anak, karena yang kuat akan menang. Selain itu akan banyak korban karena mematikan empati anak dan tidak memiliki belas kasihan, karena pada saat kesal dan marah akan melakukan kekerasan. Padahal anak yang seharusnya menjadi penerus peradaban bangsa yang tidak dibiarkan melakukan tindak kekerasan dan kebengisan.

Berbeda dengan Islam yang menjadikan keimanan sebagai landasan dalam setiap perbuatan, akan menjadi benteng dari perilaku kejahatan dan sadis. Pendidikan yang dilandasi dengan akidah Islam akan mencerminkan karakter seorang Muslim yang sesungguhnya. Karena Islam menjadikan keimanan dan ketakwaan sebagai landasan dalam setiap perbuatan yang akan menjadi benteng dari perilaku sadis dan bengis. Pada saat generasi atau anak-anak bertakwa maka akan memancarkan perilaku yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan yang dilarang oleh Allah.

Islam memiliki mekanisme komprehensif dalam membangun kepribadian rakyatnya pada semua lapisan usia sehingga terwujud individu beriman, berakhlak mulia dan terampil. Hanya dengan menerapkan Islam kafah akan bisa mencetak generasi dan anak-anak yang unggul dan bertakwa. Anak atau generasi yang mendapatkan pendidikan Islam akan membentuk dan mempunyai kepribadian Islam yang akan diterapkan dalam kehidupannya.

Dengan mempunyai akidah Islam akan membentuk kepribadian Islam yang punya pola pikir dan pola sikap Islam. Semuanya ini akan bisa diwujudkan hanya dengan penerapan Islam kafah, yang akan bisa mencetak dan melahirkan generasi gemilang yang jauh dari perilaku sadis dang bengis. Wallahu a’lam bisshawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button