Opini

Angka Pengangguran Tinggi, Kapitalisme Biangnya?

Sistem pendidikan Islam akan memberikan bekal yang cukup agar bisa terjun ke dunia kerja. Dengan begitu masyarakat siap bersaing karena memiliki kualifikasi yang mumpuni.


Oleh Nabila Sinatrya
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Persoalan pengangguran masih saja menghantui, bukannya malah berkurang tapi semakin meningkat. Hal ini tentu menjadi PR besar yang harus segera diselesaikan. Karena tingginya angka pengangguran akan mempengaruhi tingkah kesejahteraan masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengangguran Indonesia pada Agustus 2022 tembus 5,86 persen atau 8,42 juta orang. BPS juga melaporkan urutan pengangguran daerah. Urutan satu Jawa Barat (8,31%), Kepulauan Riau (8,23%), Banten (8,09%), DKI Jakarta (7,18%), dan Maluku (6,88%).

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah menyebutkan penyebab tingginya pengangguran karena mayoritas pengangguran di Indonesia berpendidikan rendah. Selain itu, persaingan pasar global membuat beberapa perusahaan asing di Indonesia lebih memilih tenaga kerja asing dari pada tenaga kerja lokal yang memiliki kemampuan rendah.

Melansir dari dataindonesia (10/02/2023), Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat, jumlah tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia mencapai 111.537 orang pada 2022. Jumlah tersebut melonjak 26,36% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 88.271 orang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah Sakina Rosellasari menyampaikan bahwa untuk mengentaskan masalah pengangguran terutama di kawasan perkotaan adalah dengan mencetak wirausaha-wirausaha baru. Juga melakukan kolaborasi dan kerja sama dengan dinas pendidikan, dinas perindustrian, hingga dinas penanaman modal.

Berbagai upaya seolah sudah direncanakan untuk mengatasi pengangguran yang semakin meningkat, namun belum juga membuahkan hasil. Hal ini semakin menguatkan kegagalan pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan untuk rakyatnya. Padahal pekerjaan akan menyokong pemenuhan kebutuhan asasiyah masyarakat.

Sungguh sangat ironis, Indonesia memiliki banyak wilayah strategis yang bisa menjadi peluang terciptanya lapangan pekerjaan malah dikuasai oleh para kapital. Sistem kapitalisme lah yang menyuburkan keberadaan para pemilik modal (kapital), terlebih posisi mereka dalam pengelolaan sumber daya alam yang membuat kekayaan berputar di sekeliling para kapital. Rakyat terkena imbasnya karena ketika pengangguran meningkat, kemiskinan merajalela.

Kapitalisme menilai kesejahteraan berasal dari pertumbuhan ekonomi yang dikuasai para oligarki. Orang yang berpendidikan rendah dan tidak punya modal jangan harap bisa ikut menguasai hasil pengolahan kekayaan alam tersebut. Bahkan terasa disingkirkan di tanah sendiri.

Inilah konsekuensi menerapkan sistem kapitalisme yang tidak bersumber dari Allah Swt. Untuk menyelesaikan secara tuntas masalah pengangguran, sudah seharusnya manusia kembali kepada sistem Islam yang berasal dari Allah Swt. Karena Dia lah yang lebih mengetahui baik buruknya.

Islam yang diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan akan mengatasi pengangguran dengan dua pendekatan. Pertama, pendekatan individu melalui sistem pendidikan yang akan memberikan pemahaman wajib dan mulianya bekerja bagi laki-laki di hadapan Allah Swt.

Rasulullah saw. bersabda, “cukuplah seorang Muslim berdosa jika tidak mencurahkan kekuatan menafkahi tanggungannya,” (HR. Muslim)

Sistem pendidikan Islam juga akan memberi modal keterampilan untuk siap terjun di dunia kerja. Jika masih malas untuk bekerja, khilafah akan mendorong dengan memberikan saran dan prasarana yang menunjang pendidikan dan aplikasi di dunia kerja.

Kedua, pendekatan sosial ekonomi di mana daulah akan mengembangkan investasi di sektor riil seperti bidang pertanian, kehutanan, tambang, ataupun perdagangan. Optimasi inilah yang akan membuka peluang besar lapangan pekerjaan bagi rakyat, terlebih dalam pengelolaan tambang yang tidak akan diserahkan ke swasta.

Sistem Islam juga melarang sektor non-riil karena haram dan uang yang beredar hanya di kalangan orang-orang kaya saja. Dalam merintis usaha dapat dilakukan dalam birokrasi yang sederhana dan tanpa pajak. Begitulah cara Islam dalam mengentaskan pengangguran sampai akarnya, sehingga rakyat dapat hidup sejahtera. Wallahu a’lam bishawwab.[]

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by istockphoto.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button