Kartu Anak Nakal

Tidak mudah menilai sifat seorang siswa. Perlu pendekatan persuasif sehingga betul-betul memahami karakternya.
Oleh Hafizah Dwiena Adhatya
Penulis : Hwang Sun Mi 1999
Diterjemahkan dari : Nappeun Orini Pyo (The Bad Kids Stickers)
Penerbit : DAR! Mizan
JURNALVIBES.COM – Buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Lee Gun Woo. Ia adalah seorang anak yang rasa ingin tahunya besar dan berbakat di bidang sains.
Di kelas, ibu wali kelasnya menerapkan stiker kartu anak nakal yang ditempel di sebelah nama anak. Stiker ini diberikan untuk setiap pelanggaran adab dan peraturan kelas. Stiker ini berwarna kuning dan tidak akan dicopot walaupun sudah mendapat hukuman.
Stiker tersebut dihadiahkan jika misal, pergi ke sekolah lupa membawa perlengkapan, tidak mengerjakan PR, mengobrol saat pelajaran berlangsung, mengumpat atau mengejek teman, jika berkelahi, tidak tertib (jalan-jalan atau berlarian di kelas), atau dimarahi guru.
Hukuman yang diberikan bervariasi. Contohnya, mengerjakan 30 soal matematika, harus piket walaupun bukan jadwalnya, atau tidak boleh pulang sampai jam 5 sore walaupun hari itu pelajaran sudah selesai.
Tentu saja, ibu guru juga memberikan kartu stiker hijau untuk murid yang tertib dan mematuhi aturan, atau yang mendapat pujian.
Lee Gun Woo adalah anak pertama yang mendapat stiker kuning. Walaupun sebenarnya bukan ia yang membuat kesalahan sehingga kelas menjadi berantakan. Tetapi, ia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Dua stiker lainnya ia dapat karena terlambat masuk kelas karena ia tidak mendengar bel berbunyi. Sejak itu, sekolah menjadi tempat yang menakutkan baginya, dan menurutnya, ibu guru membencinya.
Ia pun menulis di buku jurnalnya tiap hari, tentang beberapa hal yang akan membuatnya mendapat stiker kuning lagi, agar ia bisa menghindarinya.
Di buku jurnal itu, ia juga menuliskan rasa tidak puasnya kepada ibu guru karena ia selalu mendapat stiker kuning. Padahal, menurutnya, ada teman-teman lain yang melakukan pelanggaran, tapi karena ibu guru tidak tahu, jadi mereka tidak mendapatkan hukuman.
Dia merasa ibu guru tidak adil.
Dia pun membalas dengan menuliskan Kartu Guru Jahat di buku jurnalnya, untuk setiap hal tak adil yang menurutnya dilakukan oleh ibu guru saat mengajar di sekolah.
Sampai akhirnya, ia menemukan kumpulan stiker kuning milik ibu guru.
Ia pikir, jika seluruh stiker kuning itu dia buang, maka penderitaannya dan teman-teman yang sering mendapat perlakuan tak adil akan berakhir. Tetapi, ia malah ketakutan setelah membuang seluruh stiker tersebut ke toliet sekolah, sehingga ia memutuskan untuk bersembunyi di dalam toilet sampai seluruh murid dan guru pulang.
Parahnya lagi, ibu guru menemukan Kartu Guru Jahat di jurnal hariannya. Lengkaplah ketakutannya saat ibu guru menemukannya dan membawanya ke kelas yang sudah kosong.
Ia cuma bisa berdiri dengan air mata yang tak henti mengalir, sambil menunggu hukuman berat apa kira-kira diberikan oleh ibu guru.
Tanpa ia perkirakan, ternyata ibu guru tidak marah, bahkan beliau tertawa sendiri.
Menurut ibu guru, perbuatannya yang mengambil stiker kuning diam-diam dan membuangnya ke toliet sekolah memang tidak baik. Tetapi, beliau tetap memaafkan Gun Woo. Ibu guru meminta Kartu Guru Jahat miliknya. Gun Woo mengira ibu guru akan membuang kartu itu ke tempat sampah, tapi ternyata beliau simpan di buku beliau.
Ibu guru juga meminta kepadanya bahwa kejadian stiker kuning yang ia buang dan Kartu Guru jahat yang ia tulis agar hanya menjadi rahasia mereka berdua saja. Ibu guru pun berterima kasih kepadanya karena, berkat dia, menjadi guru dan mengajar di kelasnya ternyata menjadi lebih sulit.
Cerita ini memberikan pelajaran berharga bagi kita, bahwa tidak mudah untuk menilai sifat murid-murid, apakah ia tekun, lalai, atau pemberontak. Diperlukan pendekatan persuasif untuk hal tersebut. Tidak semudah itu pula menghukum murid dan memberikan label apapun pada mereka, tanpa memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan pendapat atau menjelaskan mengenai situasi sebenarnya.
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

