Opini

Kapitalisme Mengakar, Ritel Raksasa Bubar

Kondisi perekonomian di negeri ini sebenarnya jauh dari kata stabil dan sejahtera. Apalagi sekarang, pandemi masih menyelimuti dunia membuat jalannya roda perekomian kian tersendat.


Oleh Mulyaningsih

Pandemi masih saja berada di sekitar kita. Hampir dua tahun lamanya ia membersamakan kita tanpa tahu ujungnya. Kebijakan yang dilakukan juga beragam jenisnya, namun masih saja belum mampu memutus mata rantai si virus. Akhirnya seluruh lini kehidupan manusia kini pontang-panting dibuatnya. Salah satunya adalah tumbangnya bisnis raksasa yang dulu merajai di negeri ini. Satu per satu terpaksa tutup karena hantaman pandemi ini.

Pandemi membuat ritel-ritel raksasa babak belur dan tak mampu bertahan lagi. Satu persatu ritel besar menutup gerainya. Yang terbaru PT. Hero Supermarket Tbk. akan menutup semua gerai Giant Juli nanti. Sebelumnya gerai ritel Golden Tulip, Matahari dept store, Ramayana dept store juga telah menutup beberapa gerainya. (okezone.com, 06/06/ 2021)

Fenomena ini bak gunung es, bagian atasnya saja yang terlihat oleh kita. Namun sebenarnya, jauh di dalamnya banyak ritel yang telah menutup gerainya. Melihat hal ini, tentunya kita sadar betul bahwa banyak orang yang nantinya di PHK, artinya jumlah pengangguran semakin banyak. Dari sini kita bisa melihat masalah yang kemudian akan muncul. Sebut saja angka kemiskinan yang semakin melonjak, artinya daya beli masyarakat akan menurun juga. Ditambah lagi kekurangan gizi menjadi polemik selanjutnya yang akan mewarnai kehidupan masyarakat. Berikut juga dengan masalah kriminalitas, tentunya akan menggunung. Terbayang oleh kita jika kriminalitas tinggi? Kekacauan dan rasa aman tergadai mewarnai pada kehidupan kita. Dan kita bersiap menghadapi multi krisis yang akan mendera negeri ini.

Menilik Akarnya Penyebab

Kita melihat bahwa pandemi ini mengubah pola pemikiran masyarakat. Termasuk pula pada pola konsumsinya. Orang lebih memilih untuk berbelanja online ketimbang datang ke mall karena alasan kesehatan tentunya. Hal tersebut amatlah wajar dilakukan karena semua orang tak mau terpapar oleh si virus yang kini bermutasi. Rendahnya pola konsumsi masyarakat mengakibatkan penurunan drastis pada pemasukan ritel raksasa tersebut. Hal itu menyebabkan ritel tak mampu beroperasi seperti biasa. Mereka harus menanggung biaya operasional yang ada, disatu sisi pemasukan sedikit. Akhirnya, jalan terbaik adalah menutup gerai agar tak menimbulkan kerugian fatal.

Kondisi perekonomian di negeri ini sebenarnya jauh dari kata stabil dan sejahtera. Apalagi sekarang, pandemi masih menyelimuti dunia membuat jalannya roda perekomian kian tersendat. Hal itu bisa kita lihat dari ciri-ciri yang tampak seperti tingkat inflasi fluktuatif, defisit neraca perdagangan, nilai tukar yang tak stabil, mematikan produsen lokal lewat kebijakan yang ada (kebijakan impor), dan masih banyak yang lainnya.

Semua itu patut diduga karena penerapan sistem rusak yang merusak. Sistem ekonomi saat ini yang diterapkan di Indonesia ataupun negara lain bertumpu pada sisi ekonomi yang semu alias tak nyata. Tumpuan utamanya bermuara pada sektor non riil, bukan ekonomi yang sesungguhnya. Sisi saham, bursa efek, dan perbankan ribawi menjadi tumpuan utama sektor ekonomi saat ini. Belum lagi fiat money yang hampir dipakai oleh seluruh negara. Hal ini akan menimbulkan sisi ketidakstabilan dan mudah menyebabkan inflasi dalam jangka waktu tertentu. Dan tak diragukan lagi resesi pun akhirnya kita temui. Apalagi saat ini masih pandemi, maka dapat dipastikan bahwa roda ekonomi akan sangat terganggu atau terdampak.

Dalam sistem kapitalis yang saat ini diterapkan, peran negara yang sangat minim atau sedikit. Negara hanya bergerak membantu pada saat terjadi krisis ekonomi dan itu lebih pada mensupport pada perbankan sebagai titik utama dalam sistem kapitalis. Sementara pelaku sektor riil dibiarkan saja untuk bertahan sendiri tanpa adanya bantuan. Sehingga wajar saja mereka akhirnya tumbang tanpa bekas. Kalau ini dibiarkan terus menerus maka dapat berdampak pada para pengusaha kecil dan menengah. Tentunya mereka pun akan bernasib sama ketika tidak bisa bertahan.

Sistem Islam

Jika kita sudah mengetahui akar persoalan dari karut marutnya sisi ekonomi, maka kita harus tahu solusi hakiki yang harus diterapkan. Berikut sebagai jawaban atas persoalan yang ada. Tentunya ada satu solusi yang bisa diterapkan di dunia ini, harapan itu ada pada sistem ekonomi Islam.

Dalam sistem ekonomi Islam, pondasi yang dibangun adalah merujuk pada hukum syara. Acuan utamanya harus melihat pada sisi perintah Allah Swt. sebagai wujud keimanan kita. Dalam Islam, sektor riil menjadi sumbu utama pada roda perekonomian. Sehingga semua bergerak dan berputar secara jelas dan sesuai. Ditambah lagi, dalam Islam tak ada ribawi dan sistem fiat money. Mata uang yang ada berbasis pada emas dan perak yang lebih konstan atau stabil. Sebagaimana tercatat dalam sejarah ketika Islam diterapkan dalam kehidupan selama 13 abad lamanya mampu membawa kaya sejahtera dan stabil pada sisi ekonominya. Bahkan orang miskin saja sulit ditemukan kala itu. Amatlah berbeda dengan kondisi sekarang.

Termasuk pula ketika melihat sisi pertumbuhan ekonomi. Dalam Islam, pertumbuhan ekonomi dikatakan baik atau sesuai manakala kebutuhan pokok masyarakat dapat terpenuhi secara merata atau individu per individu rakyat sudah terpenuhi. Bukan melihat pada pendapatan bruto atau yang lainnya. Seperti yang diterapkan pada sistem kapitalis saat ini.

Baitul maal menjadi basis utama untuk pemasukan negara dan diperuntukkan dalam hal menjalankan peranannya untuk riayah terhadap pengurusan masyarakat atau umat. Sumber daya alam milik umum yang ada, maka dimanfaatkan untuk kepentingan umat. Berikut juga dengan persoalan yang sedang melanda, sebagai contoh pandemi ini. Maka negara harus menuntaskan persoalan tersebut agar tak menjalar pada yang lainnya.

Begitu rindu dengan sistem pemerintahan Islam yang kompeten untuk mengurusi masyarakat atau umat. Dan dalam perjalanannya begitu gemilang, sejahtera tentunya didapatkan. Sebagaimana fakta sejarah tercatat selama 1300 tahun lama, di dua pertiga dunia. Semoga institusi tersebut segera dapat diterapkan. Ialah khilafah yang akan menjadi pengayom dan pelindung umat.
Wallahu ‘alam.


Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button