Opini

Keselamatan Seharusnya Diutamakan

Tidak ada yang akan serius memberikan solusi kecuali hanya Islam sebagai agama sekaligus ideologi yang bersumber dari Sang Khaliq pencipta alam semesta dan manusia.


Oleh Riska Abdullah
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Perayaan hari raya Idul Fitri bagi kebanyakan kaum muslimin adalah momen istimewa untuk saling mengunjungi dalam rangka menyambung silaturahim, terutama kepada sanak saudara ditempat yang jauh dari tempat tinggal mereka. Apalagi bagi para perantau, kesempatan libur kerja lebih panjang akan sangat dimanfaatkan untuk mengunjungi keluarga tercinta di kampung halaman.

Perjalanan panjang pun akan ditempuh, di sini keamanan dan kenyamanan sangatlah diperlukan oleh mereka para pemudik, dengan harapan dapat sampai dan pulang nanti dengan selamat dan bahagia karena hajat rindu sanak saudara sudah lumayan terobati. Namun nyatanya masih banyak kecelakaan yang terjadi di perjalanan para pemudik, baik di saat arus mudiknya atau ketika arus balik berlangsung.

Dikutip dari Merdeka.com (23/04/2023), Korlantas Polri mencatat 273 kecelakaan terjadi pada Hari Raya Idul Fitri 1444 H, Sabtu (22/4).Total 30 orang meninggal dunia akibat sejumlah peristiwa itu. Ini baru di arus mudik, terjadi berulang disetiap tahun di momen yang sama.

Faktor terjadinya kecelakaan pun beragam. Mulai dari insfrastruktur jalan yang masih tidak layak dan aman. Harga tiket moda transportasi yang lebih nyaman dan aman yang mahal, tiket tol yang tak sepadan dengan isi kantong rakyat, banyaknya kendaraan pribadi yang menjadi solusi untuk dapat lakukan perjalanan mudik yang lebih ramah kantong, hingga ketidaksadaran pengendara terhadap perlunya mempertimbangkan keselamatan dalam perjalanan. Seperti tidak ngebut di jalan, mempertimbangkan barang bawaan yang sesuai dengan kapasitas alat transportasi yang digunakan, dan banyak lagi faktor lainnya.

Lalu, bagaimana dengan penanganan jalan dan kelayakan serta pengaturan moda transportasi ketika arus mudik terjadi? Bagaimana penguasa mengondisikan agar dimomentum mudik yang terus berulang ini, sudahkah maksimal?

Jawabannya dilihat dari fakta yang terjadi, di mana masih saja kecelakaan terjadi. Insfrastruktur jalan yang seharusnya dapat secara maksimal dipersiapkan untuk kenyaman para pemudik saja masih belum terwujud.
Negeri Muslim yang kaya sumber daya alam tak mampu menyediakan kenyamanan, keamanan bagi orang-orang Muslim itu sendiri dalam rangka menyambung tali silaturahim dan sila ukhuah diantara sesama mereka dimomen ied fitri yang penuh berkah.

Tidak nampak keseriusan penguasa dalam hal ini, mungkin asal ada tindakan saja dirasa sudah cukup oleh mereka. Padahal rakyat tengah dipertaruhkan nyawanya diwaktu yang sama..

Namun demikian lah sistem ini (Kapitalis-sekuler) berbicara, bahwa kepentingan para kapital adalah yang harus didahulukan, sedang rakyat haruslah dibuat tak peduli dengan hal tersebut, dibuat tak sadar dengan sakitnya mereka, hingga ketika mereka matipun tak sadar bahwa kematian mereka karena sakit yang mereka derita sebab kezaliman para penguasa yang diktator.

Harusnya ada solusi dari permasalahan yang terjadi, lebih-lebih yang menyangkut keselamatan nyawa manusia. Tidak ada yang akan serius memberikan solusi kecuali hanya Islam sebagai agama sekaligus ideologi yang bersumber dari Sang Khaliq pencipta alam semesta dan manusia. Kecintaan Allah terhadap manusia terlihat dari tidak dilepaskannya manusia hidup di bumi tanpa jalan hidup yang jelas, dibuatkannya peta aturan agar manusia selamat baik di dunia maupun kelak di akhirat.

Bahkan bagaimana urusan insfrastruktur pun tak luput dari pengaturan-Nya. Hal ini nampak penerapannya di dalam sejarah penerapan Islam oleh negara berideologi Islam yang pernah jaya dahulu, di masa Khalifah Umar bin Khatab misalnya. Beliau memerintahkan untuk mengalokasikan dana baitul maal secara khusus untuk pembangunan insfatruktur jalan untuk masuarakatnya agar dapat melakukan perjalanan dengan nyaman dan aman ke seluruh bagian wilayah Islam pada saat itu. Selain itu disediakannya pula unta dalam jumlah besar sebagai moda transportasinya, agar memudahkan perjalanan mereka yang membutuhkan transportasi.

Tidak hanya itu, khalifah Umar juga menginisiasikan agara didirikan rumah-rumah singgah untuk para musafir yang membutuhkan tempat persinggahan. Bagi mereka yang kehabisan bekal, disediakannya kurma, air dan berbagai makanan yang dibutuhkan. Masih banyak lagi kebaikan yang dilakukan Umar serta para khalifah dahulu untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para musyafir dalam perjalanannya. Mereka serius dan melakukannya ikhlas karena Allah,dan dengan rasa takut yang besar kepada Allah.

Maka kembali kepada sistem yang dahulu Umar dan para khalifah, bahkan Rasulullah dulu terapkan adalah solusi hakiki. Tak hanya dalam urusan mudik dan balik rakyat diperhatikan dengan serius, tapi di seluruh urusan kehidupan mereka akan diperhatikan. Tidak kah kita rindu hidup dalam kondisi seperti itu? Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by unsplash.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button