Paradoks Persatuan Umat dalam Haji dengan Kenyataan Umat yang Terpecah

Momentum Idul Adha mengajarkan ketaatan mutlak kepada Allah Swt. yang mendorong umat untuk patuh sepenuhnya pada syariat Islam, bukan hanya pada aspek ritual tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara
Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tanah suci untuk melaksakan ibadah haji. Dari berbagai macam negara, bangsa, ras dan bahasa mereka disatukan dengan akidah Islam yang menghapus segala perbedaan duniawi. Pemerintah Arab Saudi pada tahun ini telah menetapkan wukuf atau puncak ibadah haji 1446 Hijriah atau 2025 masehi jatuh pada hari jumat tanggal 5 Juni 2025.
Sebagaimana yang dilansir kompas (29-5-2025), Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar menyampaikan pada saat konferensi pers di Kantor Kemenag di Jakarta Pusat hari Kamis (29-5-2025), bahwa Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan tanggal 1 Dzulhijah pada tanggal 8 Mei dan menetapkan wukuf atau puncak ibadah haji 1446 Hijriah atau 2025 Masehi jatuh pada hari Kamis 5 Juni 2025.
Jutaan umat Muslim dari berbagai bangsa berkumpul di Tanah Suci untuk berhaji, ini menunjukkan persatuan yang melampaui sekat bangsa, ras dan bahasa. Meskipun berbeda negara, suku bangsa, ras, bahasa, warna kulit juga dengan latar belakang sosial ekonomi mereka melebur menjadi satu dalam rangka melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Melaksanakan wukuf bersama, melepar jumrah bersama, tawaf bersama, sai bersama dalam rangka melakukan ibadah kepada Allah Swt. Bersama-sama mengucapkan kalimat talbiah, berdoa memohon ampunan dan kebaikan bersama. Jelas sangat nampak persatuan umat berada dalam barisan yang satu untuk melaksanakan ibadah bersama.
Persatuan umat Islam tidak didasari pada kesamaan budaya atau etnis, melainkan disatukan oleh akidah Islam yang menghapus segala perbedaan duniawi. Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul untuk melaksanakan ibadah bersama kepada Allah Swt. Dengan semangat ukhuwah mereka bersatu meskipun berbeda-beda dalam rangka melaksanakan ibadah haji di setiap tahunnya.
Hampir 2 miliar umat Islam melaksanakan ibadah haji, ini menunjukkan persatuan yang melampaui sekat bangsa, ras dan bahasa. Umat Islam dalam jumlah besar tersebut berkumpul di Tanah Suci yang akan menjadi kekuatan dunia dan disegani apabila bersatu, bukan malah tercerai berai akibat sekat nasionalisme dan golongan. Akan tetapi sangat disayangkan persatuan tersebut hanya sesaat pada saat di Mekah, setelah umat Islam kembali mereka bercerai berai bahkan saling bermusuhan dan melupakan penderitaan saudara sesama Muslim dari berbagai penjuru dunia.
Ini semua terjadi karena umat masih tersekat-sekat dalam berbagai negara atau nation state akibat paham nasionalisme. Paham yang berasal dari Barat akibat penerapan sistem sekularisme yang bertujuan untuk memecah belah umat Islam di seluruh dunia.
Tanpa disadari paham tersebut meruntuhkan ukhuwah islamiah di tengah umat. Akibatnya Idul Adha yang seharusnya mengajarkan ketaatan mutlak kepada Allah Swt, yang seharusnya mendorong umat untuk patuh sepenuhnya pada syariat Islam ternyata hanya sebatas pada aspek ritual saja, sehingga tidak berefek dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Nasionalisme membuat umat Islam tidak bersatu, urusan negara Muslim tidak menjadi urusan bagi negara muslim lainnya. Masing-masing negara sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri dan tidak peduli dengan urusan umat Islam diluar wilayah negara lainnya. Negara-negara Muslim terisolasi sendiri-sendiri, dan tidak terkoneksi dengan ikatan ukuwah islamiyah. Pada saat perayaan Idul Adha pun bisa berbeda-beda di beberapa negara, dan itu terulang terus disetiap tahunnya. Bahkan konflik dan permusuhan antar negara sesama Muslim terjadi.
Sistem sekuler kapitalis membuat umat Islam bercerai berai, bermusuhan dan menjadikan hidup umat Islam semakin miskin dan menderita. Akibat dari sekat nasionalisme menjadikan umat semakin lemah dalam menghadapi hegemoni dari penjajah Barat.
Nasionalisme menjadikan umat Islam tidak bersatu, meskipun dalam jumlah milyaran jiwa kalau terpecah belah dan bercerai berai umat Islam akan tetap menderita. Oleh karena itu umat Islam harus bersatu dengan disatukan dalam kesatuan akidah yaitu Islam. Rasulullah saw. memerintahkan agar umat Islam bersatu dengan ikatan akidah Islam di bawah satu kepemimpinan yang mengikuti sunah Rasulullah dan khulafaur rasyidin.
Persatuan umat Islam yang telah Rasulullah saw. wasiatkan pada saat khatbah haji wada. Rasulullah saw. berpesan, “Wahai segenap manusia! Sesungguhnya Tuhanmu adalah Esa (Satu), dan nenek moyangmu adalah satu. Semua kamu berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang yang bukan Arab melainkan dengan takwa. Dan jika seorang budak hitam Abyssinia sekalipun menjadi pemimpinmu, dengarkanlah dia dan patuh lah padanya selama ia tetap menegakkan Kitabullah. Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan?”
Namun dengan adanya nasionalisme umat menjadi tersekat-sekat, sehingga tidak muncul persatuan umat di seluruh dunia. Oleh karena itu umat Islam butuh institusi pemersatu agar bisa menjadi satu tubuh. Persatuan umat di seluruh dunia yang sejatinya dapat terwujud dalam institusi politik Islam global atau daulah khilafah. Sistem pemerintahan yang bisa menyatukan umat dalam satu tubuh dan tujuan.
Khilafah merupakan institusi pemersatu umat, dan menurut Syekh Abdul Qadim Zallum rahimahullah beliau menjelaskan di dalam Nizham al-Hukmi fi al-Islam (Sistem Pemerintahan Islam) hlm. 138 bahwa khilafah merupakan kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di seluruh dunia untuk menegakkan hukum syara serta mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.
Sebagaimana Idul Adha yang mengajarkan ketaatan mutlak kepada Allah Swt. yang mendorong umat untuk patuh sepenuhnya pada syariat Islam, bukan hanya pada aspek ritual tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan diterapkannya Islam secara kafah dan keseluruhan dalam kehidupan, yang akan menjadikan umat Islam bersatu yang dipersatukan dalam satu ikatan yaitu akidah Islam. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






