Motivasi

Mengembalikan Semangat Sya’ban di Tengah Umat Islam

Sya’ban merupakan gerbang menuju pintu-pintu surga yang dijanjikan. Maka, siapa saja yang merindukan masuk surga melalui pintu-pintunya, Sya’ban adalah momentum untuk mengetuk pintu-pintu itu. “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.


Oleh Yulia Hastuti, S.E., M.Si.
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Wabah pandemi masih menyita banyak perhatian kita selama kurang lebih dua tahun belakangan, ditambah berbagai problematika umat yang terus saja terjadi, sampai-sampai kita lupa bahwa bulan Ramadhan akan segera tiba. Padahal begitu banyak persiapan yang harus kita lakukan untuk menyambutnya, salah satunya dengan bekal ilmu.

Sebelum memasuki bulan Ramadhan, ada satu bulan yang sering kita lalaikan, yakni bulan Sya’ban (bulan kedelapan) yang diapit dua bulan istimewa yakni, Rajab dan Ramadhan. Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadan.” (HR. Al Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Kata Sya’ban diambil dari kata Sya’bun, yang artinya kelompok, golongan, atau jalan di atas gunung. Maka karena itu, Islam memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan demi mencapai kebaikan. Hal ini sesuai sabda Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tahukah kamu sekalian, mengapa dinamakan bulan Sya’ban?. Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya Maha Mengetahui. Beliau pun bersabda: “Karena didalam bulan itu bercabanglah kebaikan yang banyak sekali.”

Terdapat beberapa alasan dinamakan bulan Sya’ban. Pertama, ada yang mengatakan karena pada bulan Sya’ban ini mereka hidup terpisah-pisah berada di gua. Kedua, ada pula yang mengatakan kalau Sya’ban berasal dari kata sya’aba, artinya merekah atau muncul dari kedalaman, karena bulan Sya’ban berada di antara dua bulan yang dimuliakan yakni Rajab dan Ramadhan. Ketika, alasan lain disebut dengan bulan Sya’ban adalah karena pada bulan ini masyarakat Arab terpencar untuk mencari sumber mata air.

Bulan Sya’ban adalah bulan mulia yang mengandung banyak kebaikan namun malah banyak dilalaikan oleh kebanyakan orang. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal manusia kepada Allah Azza wa Jalla. “Inilah bulan yang di dalamnya amal perbuatan manusia diangkatnya kepada Rabb semesta alam” (HR.An-Nasa’I dan Ahmad;Hasan). Tidak ada yang memanfaatkan bulan Sya’ban sebaik mungkin dengan amal saleh selain orang yang diberikan taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi shallallahu’alaihi wassalam mengkhususkannya untuk beribadah, melebihi bulan-bulan lain. Selain itu Sya’ban mempunyai keistimewaan sebagai bulan kekasih kita, Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam yang diutamakan melebihi bulan-bulan lain. Imam Nasai dan Abu Dawud meriwayatkan hadits dari Usamah Bin Zaid, beliau berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau banyak berpuasa pada bulan-bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban? Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam menjawab, Sya’ban adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya karena berada diantara bulan Rajab dan Ramadan, dan juga bulan diangkatnya amalan-amalan kepada Allah. Dan aku menyukai jika amalanku diangkat kepada Allah sementara aku dalam keadaan berpuasa.”

Nabi memperbanyak puasa karena Sya’ban juga bulan diangkatnya doa ke langit. Nabi ingin, saat doanya diangkat, baginda dalam keadaan berpuasa. Berpuasa sunnah di bulan Sya’ban menjadi begitu istimewa karena pada bulan ini amal diangkat, dan sekaligus puasa Sya’ban merupakan persiapan puasa Ramadan. Abu Bakr Al-Balkhi berkata, “Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadan saatnya menuai hasil.”

Begitu juga para salafus shalih terdahulu seperti yang diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasanya umat Islam di masa beliau jika memasuki bulan Sya’ban, maka mereka sibuk dengan mushaf-mushaf dan mereka membacanya, mereka juga mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka untuk memperkuat orang-orang yang lemah dan miskin dalam menghadapi puasa Ramadhan. (Latha’if Al Ma’arif, hal. 258)

Dalam catatan sejarah, di zaman Nabi shallallahu’alaihi wassalam terdapat sejumlah peristiwa penting yang terjadi di bulan Sya’ban. Pertama, perpindahan kiblat dari Bait al-Maqdis atau Masjid Al Aqsa di Palestina kembali ke Ka’bah/Baitullah di Makkah pada tahun ke-2 Hijriyah. Peristiwa ini terjadi di pertengahan bulan Sya’ban atau Nisfu sya’ban.

Ketika Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wassalam masih di Makkah, beliau beserta para Sahabat dan kaum muslimin salat menghadap ke Baitul Maqdis karena pada saat itu Ka’bah masih dipenuhi berhala yang jumlahnya mencapai 309 jenis. Berhala-berhala itu disembah oleh orang-orang Arab Jahiliah sebelum kedatangan Islam. Sehingga Nabi shallallahu’alaihi wassalam belum bisa melaksanakan shlalat menghadap Baitullah.

Selama di Madinah, Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam, selalu melaksanakan salat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Hingga sampai wahyu dari Allah, Rasulullah kemudian mengubah arah kibat ke Baitullah.

Kedua, lahirnya seorang sahabat bernama Abdullah bin Zubair atau yang akrab disebut sebagai Ibnu Zubair pada 2 Sya’ban tahun ke-2 Hijriyah. Ia adalah salah satu dari as Sabiqunal al Awalun yaitu orang terdahulu yang masuk Islam, yang lahir dari pernikahan Zubair bin Awwam dengan istrinya Asma, putri dari Abu Bakar As-Shiddiq. Karena itu, Abdullah bin Zubair merupakan keponakan dari ‘Aisyah, istri Nabi shallallahu’alaihi wassalam. Kelak, Abdullah bin Zubair pernah ikut memberontak bersama sang bibi di zaman kekhilafahan Ali bin Abi Thalib. Abdullah bin Zubair juga memproklamirkan memisahkan diri dari kekhilafahan Umayyah di era Marwan bin al-Hakam.

Namun, akibat putusannya itu, beliau diserang oleh pasukan Umayyah dibawah pimpin Hajjaj at-Tsaqafi, dan wafat dengan keadaan yang begitu tragis, kepalanya dipenggal sementara tubuhnya disalib.

Ketiga, pada 3 Sya’ban di tahun ke-3 H, lahir cucu Nabi shallallahu’alaihi wassalam yang bernama al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. Seorang yang sangat dicintai Rasulullah dan dijuluki oleh beliau sebagai “Pemuka Ahli Surga’. Pasca kejatuhan kekhilafahan ayahnya, ‘Ali bin Abi Thalib, ia di antara yang tidak setuju dengan ketidak adilan Muawiyah dan kekhilafahannya. Kelak, ia juga wafat dalam kondisi yang mengenaskan di kota Karbala, Irak. Perang Karbala merupakan kelanjutan dari riwayat panjang tentang perselisihan dan permusuhan kaum Muslimin sepeninggal Rasulullah.

Keempat, disyariatkannya puasa Ramadan pada tahun ke-2 H, tepatnya tangal 10 Sya’ban setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam hijrah ke Madinah. Namun pendapat yang paling kuat puasa Ramadan, disyariatkan di bulan Ramadan. Selain itu, wajibnya puasa Ramadhan juga dijelaskan di dalam Al-Qur’an yang di antaranya adalah sebagai berikut. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (TQS. Al-Baqarah ayat 183)

Kelima, terjadinya peperangan yang disebut Ghazwah Bani al-Mushtoliq. Perang ini terjadi di tahun 6 H. Perang ini sebenarnya tidak terlalu besar karena hanya melawan satu suku. Namun, perang ini menjadi ujian sosial yang cukup berat bagi masyarakat Muslim di masa itu. Karena, mulai muncul sejumlah kelompok oportunis yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut al-Munafiqun , karena mereka mengikuti perang murni karena tergoda dengan besarnya ghanimah.

Saat itu, mereka juga yang paling mudah menyalahkan. Di saat itulah, mulai dikenal Abdullah bin Salul, orang asli Madinah yang masuk ke dalam golongan Munafik. Saat inilah, Nabi shallallahu’alaihi wassalam mulai waspada dengan sejumlah kelompok munafik tersebut.

Inilah momen dimana dengan mengetahui sejarah Sya’ban di masa Rasulullah dan para salafus shalih dapat mengembalikan semangat umat dalam meningkatkan ketakwaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadikan kita semakin semangat untuk terus menghidupkan Sya’ban. Bulan Sya’ban telah menjadi gerbang yang akan mengantarkan kita memasuki Ramadhan. Karena Ramadhan adalah bulan dibukannya pintu-pintu surga, sebagaimana yang disabdakan Nabi.

Sya’ban merupakan gerbang menuju pintu-pintu surga yang dijanjikan. Maka, siapa saja yang merindukan masuk surga melalui pintu-pintunya, Sya’ban adalah momentum untuk mengetuk pintu-pintu itu. “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.” (HR Ahmad dari Anas bin Malik). Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button