Ketika Alam Mengajak Berbicara, Dengarkan!

Eksploitasi brutal pada alam akan berbanding lurus dengan bencana yang akan terjadi sebagai dampak dari tindakan tersebut
JurnalVibes.com — Bencana banjir kembali terjadi. Sejumlah wilayah di Semarang terendam banjir, usai diguyur hujan. Sejumlah pompa penyedot banjir di Semarang ditemukan tak berfungsi optimal lantaran permasalahan administratif. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengingatkan problem semacam ini mestinya harus segera diselesaikan mengingat kondisi darurat penanganan banjir. (CNN Indonesia, 07/02/2021)
Banjir di Semarang dan Jember terjadi bukan hanya karena masalah administrasi tapi merupakan problem mendasar karena orientasi pembangunan yang tidak memprioritaskan keselamatan rakyat dan kelestarian lingkungan tapi malah berhitung untung rugi.
Memang intensitas hujan yang deras bisa berpotensi banjir, namun daya dukung lingkungan yang tidak baik seperti pembangunan atau pembukaan lahan yang eksploitatif akan menambah potensi itu semakin besar. Apalagi jika kebijakan-kebijakan negara justru memfasilitasi tindakan eksploitatif tersebut.
Sederhananya begini, ketika bencana terjadi dampak langsung yang merasakannya pastilah rakyat. Baik yang berada tepat di kawasan bencana maupun yang berada di daerah sekitarnya. Lalu pertanyaan muncul, siapa yang harus bertanggungjawab? Rakyat jelas meminta pertanggungjawaban pada yang telah diserahkan amanah untuk memimpin negara ini. Baik itu individu, instansi ataupun lembaga negara.
Persoalan apa dan bagaimana itu bukan domain rakyat yang harus mencari solusinya tapi siapa yang memegang pertanggungjawaban amanahnya. Baik di tingkat kelurahan, kecamatan, daerah, provinsi atau bahkan pusat. Harus dicari soluso tuntas, bukan solusi yang sesaat sehingga bencana itu akan terus terjadi berulang-ulang.
Beragumentasi dengan alam “bahkan ketika kamu berlaku tak adil atau sadis pada alam, dia tetap selalu menyediakan apa yang kamu butuhkan dalam kehidupan”.
Memang benar, bencana terjadi karena manusia alpa memahami bicara alam. Tindakan-tindakan manusia serakah menghancurkan alam demi keuntungan sesaat membuat alam gerah. Bumi ini tercipta bukan hanya untuk satu generasi saja tapi demi keberlangsungan hidup generasi demi generasi. Dari generasi terdahulu, generasi millenial, generasi X, generasi Z bahkan generasi-generasi berikutnya.
Eksploitasi brutal pada alam akan berbanding lurus dengan bencana yang akan terjadi sebagai dampak dari tindakan tersebut. Apa yang diperbuat hari ini akan sama dengan apa yang akan diterima nanti. Dan ingat, kehancuran yang dimulai hari ini dalam hitungan hari, bulan dan tahun akan dibayar dengan hitungan dalam berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun kemudian.
Dan yang terpenting dari semua itu adalah konsekuensi dari tindakan sebuah kebijakan dimana aturan dibuat adalah untuk dilaksanakan tanpa pandang bulu. Bukan lemah pada kawan, keras pada lawan. Tegas pada rakyat, bersahabat pada pejabat dan pengusaha hebat.
Dengarkan ini “bumi akan selalu mencukupi kebutuhan semua manusia, namun tidak untuk memenuhi keserakahan satu manusia”.
Awiet Usman (Penggiat Literasi)
Dumai Riau
Pictures by google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

