
Dalam Islam, lingkungan keluarga, sekolah, dan negara saling menopang antara satu dan lainnya. Sehingga akan lahir pemuda cemerlang yang dapat melanjutkan perjuangan di masa yang akan datang.
Oleh Nurmaya
(Aktivis Pemuda Andoolo Sulawesi Tenggara)
JURNALVIBES.COM – Bunuh diri kini sangat sering terjadi. Bukan hanya di luar negeri, di Indonesia pun tidak Jauh berbeda. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Seseorang yang mengakhiri hidupnya menganggap dengan ia mati ia akan menghilangkan problematika yang terjadi.
Bunuh diri seolah menjadi trend pada generasi muda.
Dikutip detiknews (17/1/2023), seorang remaja laki-laki ditemukan tewas gantung diri di kamarnya. Korban nekat bunuh diri diduga karena depresi ditinggal kekasihnya menikah. Korban yakni F (20) warga Desa Ngraseh, Dander, Bojonegoro. Korban tewas tergantung dengan kain sarung dan kedua tangan terlihat memegangi seutas kain yang terlilit di lehernya .
Sementara itu mengutip medcom.id (17/1/2023), aksi percobaan bunuh diri gadis berinisial NA, digagalkan polisi, Senin, 16 Januari 2023. Gadis tersebut hendak terjun ke Sungai Brantas di jembatan Jalan Majapahit, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur.
Kasus bunuh diri rata-rata terjadi karena depresi. Mengapa seseorang bisa depresi? Serta bagaimana mengantisipasi depresi?
Menurut Wikipedia, depresi adalah suatu kondisi medis berupa perasaan sedih yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, perasaan dan kesehatan mental seseorang. Mengenai perasaan sedih, perasaaan ini muncul dikarenakan ujian kehidupan. Sebenarnya hidup di dunia ini memang untuk diuji, namun apakah semua orang dapat depresi karena ujian kehidupan? Jika kita amati ternyata pola pikir seseorang akan mempengaruhi depresi dan tidaknya ketika ditimpa masalah.
Kalau mindset seseorang kapitalis maka sangat mudah terjangkit depresi. Karena orang kapitalis memandang kehidupan di dunia ini untuk bersenang-senang, serta mendapatkan keuntungan materi yang banyak. Kemudian apabila kesenangan gagal diraih, maka depresi akan terjadi. Oleh karena itu seseorang yang bermindset kapitalis ini bisa saja berfikir mengakhiri hidupnya.
Keluarga terutama ibu sangat penting perannya. Namun realita yang kita lihat hari ini, ibu-ibu nseolah sangat sibuk sampai tak mampu mengurus anaknya dengan baik, mereka sibuk bekerja, memperindah tubuh, mempercantik wajahnya, agar tidak nampak tua, tidak mau mendengar keluh kesah anaknya, tidak mencari tahu, bahkan tidak tahu lingkup pertemanan anaknya siapa-siapa saja. Padahal ini adalah tugas orang tua.
Memang cukup miris karena banyak ibu saat ini mengalami disfungsi dalam keluarga. gak ini menjadi salah satu faktor penyebab anak-anak tak tentu arah. Menciptakan generasi yang hanya mencari kesenangan dunia, mudah baper, depresi, sampai bunuh diri. Generasi muda, generasi yang akan menjadi generasi yang melanjutkan perjuangan tidak terdidik dengan baik.
Belum lagi lingkungan sekolah. Dapat dilihat saat ini pelajar disodorkan dengan kurikulum yang berbeda-beda, sehingga sampai pada kurikulum merdeka belajar, di sekolah para pelajar diajari teori-teori yang begitu banyak, tugas yang menumpuk, sehingga memberikan kesan berbelit-belit dalam menuntut ilmu. Kemudian mata pelajaran khususnya pendidikan agama Islam hanya satu kali dalam sepekan sehingga kurang mampu menguatkan akidah peserta didik, karena guru PAI kurang leluasa berbincang pada peserta didik. Sedangkan mata pelajaran yang lain neberapa kali pertemuan dalam sepekan ada sampai kali dalam sepekan.
Dari sini bisa terlihat bahwa sistem kapitalis seolah-olah memaksa peserta didik untuk sekuler memisahkan agama dari kehidupannya.
Lebih-lebih aturan negara sangat penting untuk menjaga kestabilan atau kewarasan para generasi muda. Namun semua itu tidak akan kita dapatkan dalam sistem hari ini.
Berbanding terbalik dengan sistem Islam. Di dalam Islam, lingkungan keluarga, sekolah, dan negara saling menopang antara satu dan lainnya. Di lingkungan keluarga misalnya, mengajarkan bahwasanya ada kewajiban orang tua untuk mengurus anaknya, mendidik sesuai syariat Islam, sehingga menghasilkan anak patuh dan taat pada Allah, tidak mudah putus asa, tidak mudah baperan, tidak mudah lelah, tidak mudah dijatuhkan. Akan lahir pemuda cemerlang yang dapat melanjutkan perjuangan di masa yang akan datang.
Banyak lahir pemuda Islam yang berkualitas akibat didikan orang tuanyaini terlihat pada masa kejayaan Islam. Selain lingkungan keluarga yang berpengaruh bagi kehidupan seorang manusia, lingkungan sekolah juga berpengaruh.
Jika kita melihat masa-masa awal kejayaan Islam, maka kita akan menemukan betapa Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan. Negara saat itu juga benar-benar memperhatikan berbagai sarana pendidikan.
Di dalam Islam, asas dan kurikulum pendidikan adalah akidah Islam. Semua kurikulum yang disusun harus disandaran pada akidah Islam, karena tujuan pendidikan Islam adalah membekali akal dengan pemikiran dan ide-ide yang sehat baik akidah ataupun hukum.
Islam juga selalu memberikan dorongan kepada manusia agar selalu menuntut ilmu, orang yang berilmu itulah yang akan mendapat kedudukan yang lebih terhormat di sisi Allah Swt.
Dengan demikian setiap metode yang digunakan harus terlalu sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai yaitu menjadi Muslim sejati yang selalu memakai ilmu pengetahuannya dalam setiap sendi-sendi kehidupan.
Sehingga dapat disimpulkan apabila lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan sosial, menerapkan Islam secara kafah maka generasi muda tidak akan mengalami krisis dalam segala lini kehidupannya.
Generasi muda tidak akan terperdaya untuk mengakhiri hidupnya bahkan berfikir yang demikian saja tidak terbesit dalam dirinya. Karena mereka memiliki rasa takut kepada Sang Pencipta, percaya ada kehidupan kekal di akhirat setelah usai menjalani hidup di dunia. Wallahu a’lam bishshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






