Opini

Generasi Z di Era Digital, Butuh Pergerakan Terarah dan Ideologis

Untuk menyelamatkan Generasi Z adalah dengan mengubah paradigma berpikirnya daru sekuler menjadi paradigma berpikir Islam secara ideologis


Oleh Siti Uswatun Khasanah

JURNALVIBES.COM – Masa kini memang eranya Generasi Z. Generasi yang lahir di tahun 1997 hingga 2012, yang artinya berusia 28 tahun sampai 31 tahun. Artinya hari ini merupakan generasi yang mendominasi dunia, termasuk dunia digital.

Dikutip dari CloudComputing (12-8-2025), jumlah pengguna internet di Indonesia pada semester pertama 2025 mencapai 229.428.417 jiwa atau 80,66% dari total penduduk Indonesia, dan Generasi Z adalah pengguna paling mendominasi.

Sebagai generasi yang tumbuh di era perkembangan teknologi digital, Generasi Z mendapatkan banyak pengaruh dari dunia digital terhadap tumbuh kembangnya.

Perkembangan dan kemajuan pada teknologi digital memang tidak terelakkan. Teknologi digital ini ibarat dua mata pisau. Di satu sisi dapat memberikan kemudahan, namun disisi lain dapat memberikan dampak buruk. Tergantung bagaimana cara kita memanfaatkannya.

Berbagai platform seperti Instagram, TikTok, Twitter yang memfasilitasi generasi untuk mengekspresikan diri, menampilkan identitas, minat dan pandangan hidup. Berbagai platform tersebut dimanfaatkan Generasi Z untuk menyuarakan pendapatnya.

Meskipun sering kali dianggap sebagai generasi yang lemah, karena jarang terlihat demonstrasi secara fisik. Namun Generasi Z justru lebih memberikan dampak perubahan lewat suaranya di media sosial. Mereka memiliki potensi kritis dan terbukti mampu menginisiasi perubahan di sosial media.

Namun sayangnya, ruang digital saat ini tidaklah netral. Karena telah dikuasai dan didominasi oleh nilai-nilai sekuler kapitalistik. Platform digital dibangun oleh korporasi global dengan tujuan memperoleh profit semata, bukan membentuk nilai moral apalagi akidah Islam.

Algoritma dirancang untuk kepentingan kapitalis. Dengan demikian pengguna sosial media utamanya Generasi Z tentu mendapatkan tekanan sosial, baik secara sadar maupun tidak. Konten yang diutamakan adalah konten-konten viral, sensasional agar lebih menarik perhatian pengguna untuk online lebih lama sehingga penguasa platform mendapatkan keuntungan dari itu semua.

Di satu sisi, teknologi digital dapat menjadi wadah Generasi Z untuk menjadi wadah munculnya aktivisme global. Sebab dengan adanya media sosial, Generasi Z menjadi lebih mudah terhubung dengan isu-isu dunia dalam lingkup politik dan sosial sehingga mampu mengorganisasi gerakan dengan cepat dan berani menyuarakan pendapat. Harapannya mereka mampu memberikan perubahan berpikir dalam lingkungan masyarakat. Selain itu, teknologi digital juga memberikan kemudahan dalam belajar dan mencari informasi.

Namun, saking banyaknya informasi yang diterima oleh generasi. Sementara kondisi generasi saat ini yang kebanyakan tidak memiliki landasan keimanan, teknologi digital juga memberikan dampak buruk bagi generasi. Misalnya saja problem kesehatan mental. Akibat informasi yang diterima tanpa filter di media, generasi dapat mengalami stres, kecemasan berlebih, hingga depresi. Hal ini diakibatkan adanya tekanan dalam bersosial media, misalnya saja standar kecantikan yang dibuat oleh manusia, ketergantungan pada like dan viewer.

Selain itu, media sosial juga menjadi tempat generasi mempertanyakan agama. Ini sebenarnya potensi yang bagus, hanya saja jika pertanyaan dilontarkan di sosial media dan mendapatkan respons dari berbagai pihak dengan jawaban yang beragam justru menimbulkan kebingungan akan agamanya yang dianutnya, bahkan malah menjauhkan dari mereka dari agama.

Akibat digitalisasi ini, Generasi Z pun memiliki nilai sendiri yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Karena media sosial ini dikuasai oleh kapitalis, jadi nilai yang diadopsi kebanyakan adalah nilai yang berasal dari barat dan dianggap sebagai nilai yang modern dan sesuai perkembangan zaman.

Alhasil, pergerakan yang dilakukan di sosial media sekarang ini masih cenderung pragmatis. Bahkan terkadang masih ada yang bertujuan untuk mencari validasi saja. Hal ini disebabkan karena generasi tumbuh dan berkembang tanpa memiliki ideologi yang arahnya tidak jelas. Padahal potensinya luar biasa.

Maka penting sekali menyelamatkan generasi dari pengaruh hegemoni ruang digital yang sekuler kapitalistik agar generasi mampu mengarahkan potensinya untuk membawa perubahan yang hakiki. Perubahan ini harus dimulai dari perubahan berpikir. Maka untuk menyelamatkan mereka adalah dengan mengubah paradigma berpikirnya daru sekuler menjadi paradigma berpikir Islam secara ideologis. Pemikiran Islam inilah yang nantinya akan membawa perubahan besar pada diri mereka yang akan mereka suarakan dan menjadikan perubahan secara mengakar di seluruh sendiri kehidupan.

Layaknya generasi di masa kegemilangan Islam, generasi muda menjadi pelopor perubahan dan kejayaan Islam. Pergerakan Generasi Z harus diarahkan untuk memberikan solusinya yang tersistematik dan berlandaskan ideologi Islam.

Negara, masyarakat dan keluarga memiliki kewajiban untuk menyelamatkan generasi dan mengarahkan generasi pada pergerakan yang sahih. Sehingga perubahan yang hakiki akan benar-benar terwujud. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button