Dari Generasi Viral Menuju Generasi Visioner

Keluarga, sebagai madrasah pertama yang menanamkan pola pikir Islam dan adab dalam menggunakan teknologi.
Oleh Faradilla
(Aktivis Dakwah)
JURNALVIBES.COM – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berpikir, berinteraksi, dan memaknai realita. Generasi muda,terutama Generasi Z tumbuh dalam ekosistem digital yang serba cepat, instan, dan sarat distraksi.
Di satu sisi, teknologi membuka akses ilmu dan konektivitas tanpa batas. Namun di sisi lain, pola konsumsi konten digital yang berlebihan justru memunculkan persoalan serius.
Fenomena brain rot menggambarkan kondisi ketika otak manusia terbiasa dengan rangsangan instan, konten cepat, dangkal, dan repetitif sehingga secara perlahan kehilangan daya tahan untuk berpikir mendalam, membaca teks panjang, serta memahami gagasan yang kompleks.
Dalam kondisi ini, proses berpikir tidak lagi reflektif, melainkan reaktif. Jika dibiarkan, generasi muda akan tumbuh dengan kemampuan intelektual yang dangkal, mudah terombang-ambing oleh opini viral, serta rapuh secara ideologis karena tidak memiliki fondasi berpikir yang kokoh.
Dampak dari kondisi ini tidak bersifat abstrak, melainkan nyata dan terukur di tengah masyarakat. Data pemerintah Indonesia menunjukkan bahwa ribuan kasus hoaks terdeteksi setiap tahun.
Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat sedikitnya 9.417 kasus hoaks dalam rentang waktu 2018–2023 saja (Antaranews, 25-2_2023). Masifnya penyebaran hoaks ini mencerminkan lemahnya kemampuan berpikir kritis publik, informasi diterima dan disebarkan secara instan tanpa proses tabayyun, verifikasi, dan analisis yang memadai.
Kedangkalan berpikir generasi muda ini bukanlah fenomena netral atau kebetulan. Ia merupakan konsekuensi sistemik dari desain algoritma digital yang beroperasi di bawah payung kapitalisme sekuler.
Algoritma media sosial tidak dirancang untuk membentuk manusia yang berpikir kritis, berkarakter, dan berprinsip, melainkan untuk memaksimalkan engagement, keuntungan iklan, serta waktu layar pengguna. Dalam sistem ini, perhatian manusia diperdagangkan, emosi dieksploitasi, dan kebenaran sering kali dikalahkan oleh viralitas.
Ketika pola pikir instan ini terus direproduksi, maka hoaks, disinformasi, dan manipulasi opini bukan sekadar gangguan sesaat, melainkan gejala dari krisis intelektual dan ideologis yang lebih dalam. Inilah tantangan serius yang harus dihadapi jika umat,khususnya generasi mudanya. Jika ingin bangkit dan kembali memainkan peran strategis dalam peradaban.
Dalam sistem ini, kecepatan lebih diagungkan daripada kebenaran, dan hiburan lebih diutamakan daripada tsaqofah Islam. Konten yang viral sering kali bukan yang paling benar atau bermakna, melainkan yang paling emosional, kontroversial, dan menghibur.
Tidak mengherankan apabila anak muda hari ini lebih terpikat pada kabar aib personal dan sensasi privat, dibandingkan isu-isu strategis yang menyangkut hajat hidup rakyat dan arah politik bangsa.
Jika kondisi ini terus berlangsung, maka umat Islam berisiko kehilangan generasi pemimpin yang mampu berpikir jernih, mendalam, dan ideologis. Kebangkitan Islam tidak mungkin terwujud dengan generasi yang terjebak dalam arus viralitas tanpa arah.
Islam tidak menolak teknologi. Sejarah Islam justru mencatat bagaimana umat Islam pernah menjadi pelopor sains, teknologi, dan peradaban. Namun Islam menempatkan teknologi di bawah kendali akidah dan syariat. Teknologi adalah alat, bukan tuan. Karena itu, generasi muda harus dididik untuk mengendalikan perangkat digitalnya demi kepentingan Islam dan umat, bukan justru dikendalikan olehnya.
Langkah pertama adalah keberanian untuk berhenti sejenak dari arus viralitas. Digital fasting secara sadar,mengurangi konsumsi konten dangkal dan memperbanyak interaksi dengan ilmu, tsaqofah Islam, serta aktivitas berpikir,menjadi pintu awal rekonstruksi intelektual.
Selanjutnya, dibutuhkan pembinaan literasi ideologis yang sistematis dan berkelanjutan. Pembinaan ini tidak cukup dilakukan secara individual, tetapi harus terstruktur di berbagai level:
Keluarga, sebagai madrasah pertama yang menanamkan pola pikir Islam dan adab dalam menggunakan teknologi.
Sekolah dan lembaga pendidikan, yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membentuk cara berpikir kritis dan ideologis berbasis Islam.
Masyarakat, melalui lingkungan yang kondusif bagi diskusi, kajian, dan aktivitas intelektual.
Negara, yang memiliki seperangkat aturan dan kekuasaan untuk mengarahkan sistem pendidikan, media, dan teknologi agar selaras dengan nilai-nilai Islam.
Lebih jauh, pembinaan ini harus dilakukan oleh parpol Islam ideologis yang membawa ide-ide sahih dan komprehensif. Kebangkitan berpikir saja tidak cukup jika tidak diarahkan pada ide yang benar dan sistem yang benar. Tanpa wadah ideologis yang jelas, kesadaran hanya akan berhenti pada wacana, tidak berbuah perubahan peradaban.
Menaikkan kepemimpinan berpikir generasi digital bukan sekadar upaya menyelamatkan kualitas kognitif generasi muda, tetapi merupakan proyek peradaban untuk kebangkitan Islam. Di tengah gempuran algoritma kapitalisme sekuler, umat Islam dituntut melahirkan generasi yang mampu berpikir mendalam, kritis, dan ideologis.
Dengan menempatkan teknologi di bawah kendali syariat, membangun pembinaan literasi ideologis secara sistematis, dan mengarahkan kesadaran pada ide-ide Islam yang sahih, generasi digital tidak lagi menjadi objek pasar, melainkan subjek peradaban. Dari merekalah kepemimpinan berpikir akan lahir, dan dari kepemimpinan berpikir itulah kebangkitan Islam akan dimulai. Wallahu a’lam bish-shawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






