Opini

Palestina Masih Terjajah

Umat Islam dipersatukan dengan ikatan akidah Islam yang membuat mereka bersaudara. Syariat Islam yang selaras dengan pemikiran dan perasaan umat dan mampu menjaga juga melindungi pemikiran masyarakat.


Oleh Tsabita
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Penderitaan Palestina masih berlanjut. Bagaikan luka panjang yang tak kunjung sembuh. Penjajahan terus berjalan tanpa henti. Di saat dunia sibuk mengatur kepentingan masing-masing, sampai saat itu pula kita masih menyaksikan penderitaan Palestina sendirian berjuang melawan penjajah zionis Israel.

Negeri-negeri kaum Muslim yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam membela saudara seimannya, justru menjalin hubungan kerja sama dengan penjajah.

Hamas mengecam upaya Kazakhstan memulihkan hubungan dengan Israel dengan bergabung dalam Perjanjian Abraham (Abraham Accords). Dalam pernyataannya yang dirilis pada Jumat (7/11), kelompok perlawanan Palestina itu menyebut langkah Kazakhstan itu sebagai pembenaran atas tindakan Israel yang telah menewaskan lebih dari 68.800 warga Palestina sejak 7 Oktober 2023.

Pada 2020, AS meluncurkan proses untuk memulihkan hubungan Israel-Arab dan menandatangani serangkaian dokumen yang dikenal sebagai Abraham Accords. Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko bergabung dalam perjanjian itu. Gedung Putih telah mengungkapkan keinginan agar lebih banyak negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel selama masa jabatan kedua Trump sebagai presiden. (Antaranews, 8-11-2025)

Perjanjian untuk Kemerdekaan Palestina

Perjanjian Abraham accords kerap digaungkan sebagai terobosan diplomasi yang membawa “perdamaian baru” di Timur Tengah. Namun faktanya perjanjian ini lebih mirip proyek geopolitik Amerika Serikat (AS) untuk memperkuat Israel dalam bertindak menjajah Palestina tanpa takut tekanan diplomatik.

Normalisasi hubungan dengan Israel dianggap sebagai langkah menuju perdamaian. Namun faktanya di balik narasi diplomasi tersimpan kepentingan politik dan ekonomi yang sarat manipulasi. Amerika sebagai negara adidaya memiliki peran besar untuk mendorong negeri-negeri Islam menjalin hubungan dengan Israel yang seolah membawa stabilitas Kawasan namun justru melemahkan persatuan kaum muslim dalam perjuangan membebaskan Palestina dan melegalkan penjajahan Zionis atas Gaza. Normalisasi hubungan bukanlah solusi melainkan perangkap yang memperkuat cengkeraman penjajahan dan mengkhianati perjuangan panjang rakyat Palestina.

Negeri-negeri Muslim semakin jauh dari semangat membela Gaza. Nasionalisme telah membatasi rasa tanggung jawab hanya sebatas negara masing-masing. Melemahkan solidaritas terhadap Palestina. Alih-alih menyatukan kekuatan, di tengah warga palestina porak-poranda bertahan hidup di tengah penjajah, negeri-negeri muslim fokus menjalin hubungan bilateral dengan penjajah.

Penguasa negeri-negeri Muslim telah menunjukkan penghianatan yang nyata terhadap penderitaan Gaza. Pemimpin negeri-negeri Muslim hanya bisa mengecam tanpa ada aksi nyata. Agresi Israel terhadap Palestina tidak berhenti, blokade tetap berjalan, pembunuhan warga palestina makin meningkat.

Pemerintah Turki mengumumkan penerbitan surat penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu serta sejumlah pejabat senior Israel atas dugaan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza Langkah ini diumumkan pada 7 November 2025 dan menandai eskalasi terbaru ketegangan diplomatik kedua negara yang sebelumnya sudah renggang akibat perang di Jalur Gaza.

Penguasa negeri-negeri Muslim saat ini telah menunjukkan sikap abai terhadap pembelaan Palestina. Ketika agresi dan blokade terus berlanjut, pemimpin muslim hanya mengeluarkan kecaman tanpa ada aksi nyata. Seharusnya kecaman itu diiringi komitmen nyata untuk menekan Israel agar penjajahan dihentikan.

Persoalan Palestina merupakan persoalan seluruh umat Muslim. Mereka tidak tersekat sekat melainkan bersatu layaknya satu tubuh. Rasulullah saw. bersabda, bahwa ketika melihat saudara kita yang mengalami penderitaan, seharusnya hati kita tergugah, seperti tubuh yang ikut gelisah saat ada luka di salah satu bagiannya.

Umat Islam dipersatukan dengan ikatan akidah Islam yang membuat mereka bersaudara. Syariat Islam yang selaras dengan pemikiran dan perasaan umat dan mampu menjaga juga melindungi pemikiran masyarakat. Bukan atas dasar ikatan lemah yang bersifat emosional, yang hanya muncul ketika di suatu negeri terancam bahaya, tetapi ketika dalam keadaan aman maka sirna lah kekuatan negeri tersebut dalam memperdulikan kondisi negara lain jika terjadi penjajahan dan pembantaian.

Allah Swt. Berfirman, ‘’Dan berpegang teguh lah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,” (TQS. Ali Imran (3):103).

Tidak ada jalan lain untuk menolong Palestina kecuali dengan adanya negara Islam yang akan menghapus penjajahan Yahudi atas Palestina, mengirim pasukan untuk melakukan pembebasan. Karena itu umat butuh perisai yaitu sistem pemerintahan Islam (khilafah). Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button