Opini

Tantangan Peradaban di Balik Derasnya Arus Digitalisasi

Pemuda adalah pelopor peradaban, pemuda merupakan para generasi penerus dan merupakan calon pengganti para pemimpin terdahulunya


Oleh Ummu Qanitah

JURNALVIBES.COM – Globalisasi membawa pengaruh besar terhadap cara berpikir dan pola hidup masyarakat. Perempuan yang seharusnya menjadi pengasuh yang melahirkan generasi Qur’ani justru lebih terfokus pada kehidupan duniawi yang seringkali mengabaikan tanggung jawab agama.
Karena agama tidak lagi mempunyai eksistensi dan di anggap sesuatu yang terpisah atau bukan bagian dari kehidupan.

Tidak bisa dimungkiri bahwa rusaknya generasi ini bersifat sistematis, rapuh nya mental generasi saat ini di pengaruhi oleh banyak faktor seperti tekanan ekonomi. Tidak hanya sebatas itu, tetapi tidak sedikit remaja yang terjerumus narkoba hingga bunuh diri.

Peradaban suatu bangsa akan hancur jika mereka tidak memedulikan masa depan para pemudanya. Di sinilah tugas kita bersama untuk bisa terus memperhatikan, mendidik, dan mengasuh para pemuda sebaik mungkin. Sembari berharap mereka kelak bisa menjadi matang tidak hanya sebatas fisik tetapi juga matang secara pemikiran, hingga siap untuk memegang amanah dan membawa manfaat untuk peradaban bangsa ini.

Siklus peradaban berputar layaknya roda yang terus bergerak pelan tapi pasti. Begitu pula halnya dengan abad kapitalisme saat ini. Dalam sistem kapitalis, kemiskinan makin parah karena sistem ini Cuma berpihak kepada mereka- mereka sang pemilik modal

Apakah kita lupa bahwa Islam pernah berjaya ? Bersama ketetapan Sang Khalik, kejayaan itu pasti akan kembali. Sekularisme, yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan materi sebagai orientasi telah membunuh potensi besar generasi muda sebagai makhluk intelektual dan juga gagal melahirkan generasi yang akan menjadi penerus serta pembangun peradaban.

Pembenahan generasi masa depan, peran dalam membentuk dan mengawal terwujudnya agen- agen generasi peradaban.
Banyak orang menua tanpa pernah benar- benar tumbuh, hidup panjang tapi dangkal dalam memaknai hidup. Berbagai pengalaman dalam genggaman tetapi gagal mengubahnya menjadi pemahaman.
Apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki situasi Ini? Tentunya dibutuhkan kolaborasi antara perempuan, keluarga, masyarakat, dan negara dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pendidikan agama yang kuat.

Keseimbangan peran orang tua, serta peningkatan kualitas hidup dan kesempatan untuk belajar. Digitalisasi bagaikan dua sisi mata pisau di mana satu sisi semakin memudah kan beragam aktivitas manusia, tapi di sisi lain banyak menimbul kan dampak negatif. Di era digitalisasi banyak fitur yang bisa kita guna kan dan banyak pula manfaat yang bisa kita nikmati, namun pernah kan kita berfikir bahwa dampak negatif dari digitalisasi melalui HP ini juga luar biasa terutama bagi para remaja yang belum siap menerima digitalisasi tersebut.

Kemudahan akses internet membuat remaja rentan terpapar konten negatif seperti pornografi dan berita palsu. Dari hari ke hari semakin banyak kita jumpai berbagai permasalahan remaja akibat dari bebasnya digitalisasi ini, dari mulai free seks, konten pornografi dan konten-konten negatif lainnya. Pernahkah kita menyadari dampak luar biasa dari penyalahan teknologi?

Betapa kuatnya ketergantungan kita, terutama generasi muda pada media sosial dan koneksi daring yang nyaris tanpa jeda. Rtinitas harian, hiburan, bahkan emosi kini banyak bergantung pada layar. Perkembangan teknologi dan digitalisasi telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Di balik perubahan itu muncul tantangan baru yang tidak bisa di abai kan yaitu kesehatan mental.

Menjaga diri di zaman ini bukan perkara mudah. Kapitalisme seringkali menempatkan nilai materi di atas segala nya sehingga membuat banyak orang merasa tertekan akibat perbandingan yang tidak sehat dengan orang lain dan tenanan untuk selalu tampil sempurna di sosial media.

Hari ini kita hidup dalam berbagai kecemasan masa depan generasi dan menurunnya pola pikir masyarakat. Jangan sampai krisis moral membuat kita kehilangan eksistensi, bahkan tidak menutup kemungkinan justru kemajuan digitalisasi yang tidak di gunakan dengan bijak semakin lama akan semakin menggerus kemampuan berfikir kritis.

Pemuda adalah kekuatan, detak jantung, dan aset berharga kita. Apakah kita rela jika generasi yang akan datang, yang digadang-gadang akan bisa menjadi seorang pemimpin peradaban kehilangan kemampuan berpikirnya untuk menalar, menganalisa setiap perubahan situasi yang terjadi. Baik itu dari segi ekonomi, budaya, maupun sosial. Padahal di tangan pemuda lah tongkat estafet peradaban akan diwariskan.

Pemuda adalah pelopor peradaban, pemuda merupakan para generasi penerus dan merupakan calon pengganti para pemimpin terdahulunya.

Kaum Muslim harus menyadari bahwa begitu pentingnya peran pemuda. Akan tetapi yang terjadi saat ini pemuda Muslim tengah menjadi sasaran sekularisme Barat yang mengemban ideologi kapitalis.

Kapitalisme memupuk egoisme dan mendorong masyarakat untuk mengejar keuntungan pribadi tanpa peduli pada norma atau hukum.
Tidak jauh berbeda dari kapitalisme, sekularisme pun kini sudah mulai meracuni pemikiran para generasi calon penerus peradaban.

Dengan mengandalkan paham kebebasannya, kualitas pemuda sebagai pelopor perubahan pun akhirnya dipertanyakan. Kerakusan manusia akan kekuasaan menjadikannya hanya mencari keuntungan semata. Kekuasaan tersebut akan di peroleh dengan menghalalkan segala cara,meski harus merugikan rakyat. Kapitalisme juga akan melahirkan pemimpin yang tidak amanah.

Lalu akankah kita cukup duduk tenang, berdiam diri melihat fenomena ini? Pilihan ada di tangan kita, tetap diam dan pasrah dengan kondisi yang ada, atau bergerak untuk melakukan perubahan. Wallahu a’lam bishshawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button